Kamis, 09 Januari 2014

Rhapsody


Judul: Rhapsody
Penulis: Mahir Pradana
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 324 halaman.
Tahun Terbit: 2013

If you build it, they will come (Field of Dreams)
 -Al-
 
A woman’s heart is deep ocean of secrets (Titanic)
-Sari-

Rhapsody, novel kedua karya Mahir Pradana setelah Here, After. Karya kedua Mahir yang saya baca setelah cerita-cerita pendek karyanya di Menuju(h). Novel yang menceritakan kisah seorang Abdul Latif dalam mengejar mimpi-mimpi besarnya. Ia percaya pada salah satu ungkapan dalam film favoritnya, field of dreams

If you build it, they will come
Mimpi terbesar laki-laki yang kerap dipanggil Al ini adalah memiliki hostel miliknya sendiri. Bagaimana ia tetap teguh memperjuangkan mimpi dan jatuh bangun untuk tetap percaya bahwa mimpi tersebut dapat diwujudkan menjadi cerita yang mendasari novel ini. Demi mewujudkan mimpinya Al mengubah hotel peninggalan ayahnya menjadi hostel. Namun, hostel yang telah dibuka belum berjalan dengan baik sampai keajaiban datang dari seorang laki-laki bernama Miguel yang kelak akan menjadi orang yang berarti bagi hidup Al. Berkat saran-saran dari Miguel, kini hostel miliknya dikenal dunia. Hostel itu bernama Makassar Paradise. Bahkan hostel ini mampu menyeret masa lalu Al kembali. Masa lalu berwujud wanita bernama Sari.




Saya suka novel ini mulai dari sampulnya yang didominasi biru muda dan ilustrasi sampul yang benar-benar unik. Ada gambar tangga, cincin yang terjalin di tangga, amplop, burung dan Gerbang Brandenburg. Unik. Benar-benar unik. Sampai sekarang saya masih sering membulak-balik sampul ke atas ke bawah. Soalnya bingung ini gerbang kok terbalik, tapi pas dibalikkin jadi tangganya yang terbalik. Haha I love this cover ^_^. Selain itu apa yang saya suka adalah banyak kutipan-kutipan romantis dari penulis. Saking banyaknya lihat bookmark yang saya tempel di novel. Sebagian besar itu adalah penanda untuk kutipan yang menarik.
Salah satunya:
“Orang bijak selalu mengatakan, sebelum memulai sebuah perjalanan, anggaplah dirimu sebagai sebuah stoples kosong. Lalu, dari setiap tempat yang kau kunjungi, ambillah apa pun yang bisa kau ambil. Pergunakan semua indramu untuk mengisi stoples itu. Jadi, ketika pulang rumah, stoples itu akan penuh oleh berbagai macam hal berbeda yang telah kau koleksi dari setiap perjalananmu”
Penuh bookmark novelnya...


Novel ini tidak hanya menampilkan perjuangan Al dalam membangun hostel, namun memperkenalkan pada pembaca tempat wisata dan budaya yang ada di Makassar. Fort Rotterdam yang bersejarah, sunset Pantai Losari yang indah, literatur I la Galigo sampai Patung Sultan Hasanuddin yang kadang terlupakan disinggung-singgung di novel ini. Okkots yang menjadi salah satu ciri khas gaya bicara orang Makassar, penulis jadikan  salah satu kebiasaan tokoh di novel yang bernama Bebi atau Bambang.
“Okkots adalah gaya berbicara khas orang makassar. Terkadang, orang Makassar tidak bisa menahan untuk menambahkan akhiran –g di belakang sebuah kata yang seharusnya cukup berakhiran –n sehingga khiran itu menjadi –ng. Atau sebaliknya, akhiran –ng malah kekurangan huruf “g” sehingga menjadi akhiran –n saja. Seperti yang selalu dilakukan Bebi kalau berbicara “Ikan” menjadi “ikang”, “makan menjadi makang”, “ujung” menjadi “ujun”, dan banyak lagi.
Ada juga panggilan khas untuk anak laki-laki Makassar Aco dan Acce’ untuk perempuan (kalau di sunda mungkin ujang dan neng). Selain itu penulis juga menuliskan setting dari beberapa tempat berbeda seperti Madrid, Paris, Berlin. Kota-kota ini diceritakan ketika Al sebagai tokoh utama mengenang masa lalunya.
Secara umum novel ini memiliki alur maju-mundur. Si tokoh akan diceritakan pada masa sekarang, pada lain kesempatan diceritakan masa lalunya melalui kaca mata kenangan si tokoh.  Sejujurnya saya suka karakter Al yang digambarkan gigih mewujudkan mimpi-mimpinya, namun saya lebih terhibur dengan karakter-karakter tokoh yang berada di sekeliling Al. Seperti Bebi yang ceria, setia (karena selalu ikut Al dalam suka dan duka), mudah memaafkan dan bangga akan budayanya sendiri (karena meski beberapa kali disinggung Al tentang okkotsnya, tetep aja Bebi suka memakai gaya bicara itu). Atau karakter Simon yang lucu dalam berbicara bahasa inggris, Miguel yang selalu optimis. I like them ^_^.
Penuturan dari ceritanya mengalir, meski banyak bahasa inggris, kalimat yang diucapkan dengan gaya okkots, tidak sulit memahami kalimat-kalimatnya.
Sayangnya, ada kekuranglogisan dari salah satu adegan dari novel ini.
“Lupakan Gangnam Style!” begitu kata miguel ketika kami mendiskusikan rencana berflash mob ria ini. (hal 296)
Padahal Gangnam Style belum rilis di tahun 2011 saat  Al merencanakan flash mob di hari minggu di Pantai Losari tanggal 18 Desember 2011. Info rilis Gangnam Style: Gangnam Style

At least, saya suka novel ini karena penuturan ceritanya yang mengalir, ceritanya sederhana namun selalu bermakna dalam, dan tokoh-tokohnya yang unik. Seperti kata Al,
“Keajaiban, keajaiban. Yang harus kau lakukan hanyalah tidak berhenti percaya pada keajaiban. Percaya pada kekuatan impian”
Mari kita susun mimpi dan wujudkan di tahun ini. My dream is I want to travel around Indonesia, hope this will happen this year. And What’s your dream? Tell me in comment ^_^

Keep reading for rest of your life :)



Rating: 4/5


2 komentar:

  1. iyaaa suka sama covernya deh :) sejuk ya liatnya :)

    BalasHapus