Rabu, 22 Januari 2014

Wandeuk

Judul: Wandeuk
Penulis:
Penerbit: Penerbit Bentang Belia
Genre: Fiksi, Romance, Terjemahan, Young Adult
Jumlah Halaman: 252 halaman.
Tahun Terbit: 2012
ISBN:978-602-9397-24-6
"Seberapa banyak, sih, persembahan yang sudah diberi Ddongju? Nanti juga aku akan memberi sama banyaknya. Karena itu, tolong bunuhlah Ddongju. 
-Wandeuk-
"Siapa yang tertawa? Apa kalian pernah jualan pisau di subway? Kenapa kalian menertawakan usaha yang dilakukan untuk bertahan hidup?
-Ddongju-


Wandeuk adalah novel karya
Menurut Wandeuk, Ddongju ini menyebalkan sekali. Ia tak pernah mengira akan memiliki guru yang suka menyindirnya dengan perkataan yang membuatnya sakit hati dan malu. Kekesalannya bertambah, saat ia tahu Ddongju ternyata pindah rumah ke lingkungan Wandeuk tinggal. Akibat kebenciannya ini, setiap Wandeuk pergi berdoa ia akan berdoa agar Ddongju ini meninggal. 
Seberapa banyak, sih, persembahan yang sudah diberi Ddongju? Nanti juga aku akan memberi sama banyaknya. Karena itu, tolong bunuhlah Ddongju.
Wandeuk memiliki ayah yang lebih pendek darinya dan seorang paman yang tidak sempurna. Keduanya bekerja sebagai penari kabaret, sebelum berpindah profesi jadi penari plus pedagang di pasar. Dengan keadaan keluarga yang seperti itu, Wandeuk terkadang menerima hinaan dari orang-orang di sekitarnya. Dan hinaan itu biasanya dibalas dengan pukulan. Seperti yang terjadi pada paman seberang rumah, yang Wandeuk pukul karena menghina kedua orang yang disayanginya. Akibat masalah ini, Wandeuk harus berurusan dengan penegak hukum. Di sanalah akhirnya Wandeuk ini menemukan kebaikan pada diri Ddongju yang ia anggap menyebalkan.

Source: here edited by me

Karakter Ddongju yang seolah acuh dan menyebalkan serta Ddongju yang keras dan acuh ini adalah yang menarik dari novel ini. Ddongju digambarkan acuh dan sering menghina muridnya sendiri a.k.a Wandeuk, bukan tanpa maksud. Ia ingin Wandeuk menerima takdir dan tidak merasa malu mengenai keluarganya. Ddongju berharap dengan sikapnya, Wandeuk menerima kenyataan dan berdamai dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Seolah membimbing Wandeuk untuk dewasa, tapi dengan cara yang tidak umum. 
Cerita memakai sudut pandang Wandeuk sebagai aku (orang pertama), kelebihan pemakaian sudut pandang ini adalah pembaca dapat merasakan dan berperan sebagai Wandeuk. Diterjemahkan dengan gaul, karena banyak kata yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan tidak baku. Seperti imbuhan sih, ah, kata udahlah, enggak. Sebernarnya penggunaan kata gaul ini yang membuat pembaca lebih merasa ikut andil dalam novel ini. Serasa dekat dengan tokoh-tokoh lain. Meski tetap saja tidak baku.
Sampul novel ini cukup menarik karena memajang pemeran utama dari film yang diadaptasi dari novel ini (katakanlah bahwa kau suka Yoo Ah In, Siro! ^_^). Pemilihan ukuran huruf yang cukup besar, memudahkan untuk dibaca. Alurnya maju dan sederhana. 

Between Movie and Book


Jikalau harus memilih buku dan film untuk novel ini, saya akan memilih keduanya. Tapi yah, karena saya biasanya belajar dari segi visual, jadi terkadang justru film yang lebih berkesan. Adegan yang paling lucu adalah ekspresi Ddongju yang dengan polos berdoa pada Tuhan agar Ddongju meninggal. Wandeuk ini entah kenapa antara serius dan tidak serius berdoanya. Ada beberapa perbedaan dalam film dan buku yang mencolok. Seperti asal ibu Wandeuk, di buku ibunya berasal dari Vietnam sedangkan di film berasal dari Filipina. Untuk reviu film selengkapnya di: [Movie Based on Book] Punch

Buku yang ringan dibaca, chinggu! ^_^


Keep reading for rest of your life :) 
Rating: 3/5


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar