Selasa, 20 Mei 2014

Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh (Supernova #1)


Judul: Supernova: Kesatria, Putri, & Bintang Jatuh
Penulis:
Penerbit: Bentang Pustaka
Genre: Fiksi Ilmiah
Jumlah Halaman: 322 halaman
Tahun Terbit: 2012 (pertama kali terbit 2001)
ISBN13: 9786028811729
"Putri Bungsu dari Kerajaan Bidadari. Tak kusangka akan menemukanmu secepat ini"
-Kesatria-

" "Mas Arwin nggak ada salah apa-apa, kok." Itulah satu-satunya kesalahanmu, Mas"
-Putri-

"Kita cuma berdagang di sini. Saya hanya mau berdagang dengan orang-orang seperti kalian. Kalian nggak patut diberi apa pun cuma-cuma karena kalian sendiri cuma bisa bicara dengan bahasa uang"
-Bintang Jatuh-


Sebelumnya, pertama mari kita cari arti dari Supernova.
Menurut KBBI,
supernova /su·per·no·va/ n Astron bintang meledak berukuran besar
menurut  salah satu artikel di national geographic,
Some stars behave as if it's better to burn out than to fade away. These stars end their evolutions in massive cosmic explosions known as supernovae.
yang inti dari keduanya dalah bintang yang mengakhiri evolusinya dengan ledakan. Judul yang cocok untuk buku ini yang mengajak pembaca dalam ledakan pemikiran "yang mengolah - sejarah, mitos, sains, bahkan daftar belanjaan" menjadi pandangan yang unik. Sebelum yang kedua, kesan saat pertama kali membaca buku ini adalah bingung. Yup, bingung dengan berbagai istilah sains. Buku ini sudah saya miliki sejak 2 tahun lalu, tapi belum pernah saya baca keseluruhan. Pada halaman-halaman awal tentang penjelasan ilmiah "badai serotonin" , "turbulensi", "chaos", dan lainnya sungguh membuat saya bingung dan menyerah untuk membaca buku ini. Mungkin saat itu saya belum mau berpikir tentang segala bentuk istilah sains ^^. Apa yang membuat saya mencoba membaca kembali buku ini? oke, awalnya karena buku ini akan diangkat ke layar lebar (jangan salahkan hobi saya yang senang nonton film/drama dari buku^^). Namun, pada akhirnya terdamparlah saya pada percakapan-percakapan Reuben dan Dimas yang membuat saya berpikir keras "ini novel, buku fisika, atau buku filsafat?". Cukup dengan kata "sebelumnya", mari kita masuk di kisah Supernova.
Dimas dan Reuben adalah dua tokoh sentral di Supernova. Pasangan ini bertemu dalam satu hari yang berbeda yang memungkinkan dua orang dengan latar belakang berbeda berbagi rasa. Reuben si anak geng beasiswa yang sinis dan kuper sedangkan Dimas anak orang kaya, anak Indonesia yang berlebih harta. Kedekatan mereka dimulai saat keduanya sama-sama mengalami "badai serotonin". Untuk pertama kalinya Reuben merasa "jernih" dan bersama Dimas ia nyaman. Keduanya sepakat, sepuluh tahun mendatang mereka akan membuat masterpiece. Impian Reuben,
Sepuluh tahun dari sekarang, saya harus membuat satu karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains.
sedangkan impian Dimas,
...sepuluh tahun juga buatku. Satu masterpiece. Roman sastra berdimensi luas yang mampu menggerakkan hati banyak orang
Hingga sepuluh tahun kebersamaan mereka, Dimas dan Reuben bertekad mewujudkan impian itu. Terinspirasi dari dongeng masa kecil Dimas tentang Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh, terlahirlah kisah Supernova ini. Kesatria dalam bayangan keduanya adalah manusia yang kompleks, sukses namun memiliki konflik masa lalu yang "membunuh" talenta masa kecilnya. Sosok Kesatria ini muncul sebagai MD (managing director) di perusahaan multinasional di Jakarta, gila kerja, tampan, mapan, namun memiliki konflik masa lalu yang membuatnya hampa.
Demi memunculkan kisah cinta yang kontroversial dan penuh pertentangan moral dan sosial, Reuben dan Dimas menciptakan sosok Putri. Seorang wanita karir yang telah menikah dan menemukan "celah" kosong dalam kehidupan rumah tangganya. Satu lagi sosok penentu yaitu Bintang Jatuh. Tokoh yang mewakili dunia abu-abu penuh paradoks.
Kisah sebenarnya dari buku masa kecil Dimas adalah tokoh Kesatria yang mengejar Putri impiannya. Sayang Sang Putri terbang jauh ke langit. Hingga datang Bintang Jatuh yang hendak menolong Kesatria. Namun, Bintang Jatuh malah merebut Sang Putri. Kisah berakhir tragis. Tapi bukan itu yang keduanya racik. Harus ada kisah lain. Semula Reuben dan Dimas hanya menyangka tulisannya hanya sekadar tinta dan mungkin saja terjadi di kehidupan nyata entah dimana. Tapi, ternyata kisah yang mereka tulis adalah kisah orang-orang di sekitar mereka berwujud Ferre, Rana, dan Diva. Kisah ini berkumpul membentuk jaring laba-laba.

 Supernova
Sumber: Pinterest

Setelah membaca buku ini?
Tema buku memang unik dengan berbagai teori fisika, filosofi, psikologi sains membaur bersama kisah roman. Pembaca diajak mengikuti setiap percakapan Dimas dan Reuben yang intinya mempertanyakan eksistensi "ada". Yang ada hanyalah ada. Ungkapan yang menjadi inti seluruh cerita. Gaya bertutur tokoh Dimas dan Reuben sungguh berbeda dan unik. Menggabungkan dua pribadi, yang satu teramat freak terhadap sains yang satu amat menyukai sastra. Kolaborasi sastra dan sains. Ketika cerita mereka berdua menjadi sebuah kenyataan dalam hidup, memberi saya paham mungkin entah di belahan dunia mana kisah yang saya bayangkan terjalin dan terjadi sebenarnya serta berhubungan dengan benang yang entah bagaimana dengan saya si pengkhayal kisah. Intinya, semua bisa terjadi dalam hidup ini.
Alur dari kisah ini seimbang. Meski banyak narasi dan deskripsi untuk menjelaskan teori-teori yang kedua tokoh bincangkan. Kisah akan bergulir pada Dimas dan Reuben, kemudian berpindah pada tokoh Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Dan banyak twist yang membuat persepsi awal runtuh. Sayangnya meski diakhiri dengan sederhana dan manis oleh penulis, saya merasa di bagian akhir agak terburu-buru (atau ini perasaan saja *abaikan* ^^). Intinya mungkin saya ingin "lebih" untuk cerita ini.
Tokoh favorit saya di kisah ini tentu adalah sosok Diva si Bintang Jatuh. Diva yang pengetahuannya setaraf dengan dosen tapi lebih memilih menjalani hidup yang biasa. Ada sebuah percakapan antara Reuben dan Dimas yang membuat saya bertanya-tanya tentang "adanya" Dimas dan Reuben ini di pemikiran si penulis. 
 "Bagaimana kalau ternyata kita hanya dalang tempelan. Figuran. Dua orang pria yang bahkan tak punya nama belakang. Hidup dalam sebuah molekul pikiran seorang penulis lain. Dan, kita selamanya tidak bisa keluar dari sini.
...
"Semua memori, pengetahuan, dan hikayat hidup kita diinjeksikan begitu saja. Kita nggak sungguhan mengalami itu semua.
Penulis seolah-olah memang mengeluarkan tokoh Dimas dan Reuben dalam pemikirannya. Dan seolah keduanya hidup. Keren !!.
Buku ini cukup membuat saya banyak bertanya-tanya perihal filsafat dan sains di dalamnya. Meski saya pun kurang paham dengan berbagai istilah yang ada, tapi dengan buku ini cukup membuat otak kecil saya berpikir dengan segala kemungkinan "pemikiran" yang dibeberkan dalam Supernova. Satu dari beberapa kutipan yang berkesan,
Otak manusia hampir setiap berada di percabangan menuju bifurkasi. Satuuu... saja turbulensi kecil berasal dari akumulasi keresahan, akan membawa tokoh kita ke titik kritis yang bisa menjadikannya apa saja

Keep reading for rest of your life
Rating: 4/5
 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar