Selasa, 17 Juni 2014

Interlude


Judul: Interlude
Penulis:
Penerbit: Gagas Media
Genre: Fiksi, New Adult
Jumlah Halaman: 380 halaman
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 9797807223

"Aku memang putus asa. Aku...lelah. Lelah bermimpi buruk. Lelah menangis. Lelah merasa takut. Lelah dianggap kotor."
-Hanna-

"Jangan pernah pergi dari sisiku, oke? Selamanya. Aku juga tidak akan berhenti jadi lautmu. Selamanya."
-Kai-


Hanna Sjahrir memiliki masa lalu yang takkan mungkin dilupakannya seumur hidup. Masa lalu berubah menjadi mimpi buruk yang menghantui setiap hari dan bertransformasi menjadi trauma. Ya, saat itu Hanna mendapatkan perlakuan yang "sangat jahat" dari pacar yang dia anggap dapat melindungi. Pacar yang merampas kebahagiaan dan menjauhkan Hanna dari kehidupan sosial. Akibat kejadian itu pula, Hanna selalu merasa dirinya kotor. 
Dia takut berada di tengah-tengah mahasiswa-mahasiswa lain, takut berhadapan dengan mereka, takut membayangkan apa yang mereka pikirkan mengenai dirinya, takut jika mereka menganggap dia...kotor.
Hanna  mempunyai hobi membawa alat rekam kemna-mana dan merekam setiap kejadian yang terjadi padanya. Dulu hal ini ia lakukan karena ingin menjadi jurnalis, namun kini ia merasa hanya rekaman-rekaman itu yang dapat menemani kesepiannya. Dan Hanna tak menyangka, dari rekaman tersebut ia mendengar petikan gitar yang membuatnya hanyut dalam melodi indah. Petikan gitar si laki-laki "laut", Kai.
"Tidak ada yang ingin dilakukannya dalam hidup" itulah Kai. Kai seorang gitaris dari grup jazz Second Day Charm. Setiap hari ia bangun hanya untuk menjalani hidup tanpa tujuan. Jika malas pulang ke rumah yang ia anggap "neraka", ia akan menginap di rumah teman atau mantan pacarnya. Saat Kai mencoba membuat musik baru untuk grup jazznya, saat itulah ia bertemu "gadis latte", Hanna.
Awalnya Kai mengira Hanna sama seperti wanita-wanita yang ia kenal selama ini. Bertopeng manis namun sesungguhnya berjiwa munafik.
Perempuan tidak perlu diberi hati, itu yang dia percayai selama ini. Rengekan, tangisan, penampilan lemah mereka; semua itu hanya topeng. Di balik topeng tersebut, ada makhluk munafik yang sangat pintar berpura-pura, yang jauh lebih berbahaya daripada lelaki paling binatang sekalipun.
Kai mendekati Hanna. Dan merasa jatuh cinta padanya. Namun, Kai tidak tahu bahwa satu sikap Kai yang impulsif terhadap Hanna, dapat menambah ketakutan Hanna dan membuat Kai tak jauh beda dengan pacar Hanna yang merenggut kebahagiaannya.  
 
 Source: here edited by me

Well, interlude sebenarnya menyuguhkan kisah cinta dari dua manusia yang memiliki masalah dan masa lalu masing-masing yang mungkin terjadi di antara kita, di antara sahabat-sahabat kita. Seperti kata penulis, ia sebenarnya diminta penerbit untuk menulis buku dengan genre new adult. Awalnya penulis yang telah diberi referensi oleh penerbit tentang buku-buku new adult dengan sampul yang provokatif, penulis takut diminta menulis adegan panas. Tapi untungnya tidak seperti itu. Buku interlude jauh dari adegan seperti itu meski bergenre new adult
Menurut saya kelebihan Windry Ramadhina terletak pada penjabaran setting dan tokoh yang mendetail. Penjelasan tempat kejadian setiap tokoh cukup mendetail sehingga memudahkan pembaca untuk menggambarkan dalam benak mereka apa dan dimana si tokoh saat itu. Contohnya saat Hanna bertemu Kai pertama kali, Hanna secara impulsif menuju rooftop. Beginilah Windry menggambarkan,
Hanna melirik pintu logam bercat abu-abu muda di salah satu ujung selasar. Di balik pintu itu, ada tangga darurat. Dan, di ujung paling atas tangga darurat tersebut, ada tempat terbaik yang bisa ditemukan di bangunan ini--tempat yang dahulu sering dia datangi sewaktu senja.
Jadi, pintu logam menuju rooftop itu berwarna abu-abu. Di baliknya ada tangga darurat yang menuju rooftop. Cukup mendetail untuk menjelaskan setting. Begitu pun dengan deskripsi fisik tokoh Kai dari sudut pandang Hanna. Cukup mendetail.
Wajahnya tampan, memikat. Garis rahang, tulang pipi, juga alisnya tegas dan sempurna menyerupai hasil pahatan. Rambutnya bergerak-gerak pelan dibelai angin, sesekali menutupi matanya, sesekali menampakkan sepasang bola cokelat yang menawan.
Alur dari kisah Kai dan Hanna seimbang antara narasi, deskripsi, dan percakapan dari tiap tokoh. Meski di sini menggunakan sudut orang ketiga, yang artinya penulis menjadi si pencerita. Tidak terlalu banyak narasi dari si penulis. Konflik utama dari kisah ini masih berhubungan dari masalah kepercayaan dari kedua tokoh yang saling jatuh cinta karena masih dibayangi masa lalu. Cukup umum, namun dibawakan dengan kisah menarik. 
Sayangnya ada satu kejanggalan dari deskripsi penulis di salah satu setting. Tepatnya di kafe tempat Hanna biasa membeli kopi. Penulis bilang kafe ini telah berubah, unsur kuno diganti dengan unsur modern. Di bagian kalimat " Lantai keramik dilapisi papan jati", apakah ini tidak terbalik?. Jikalau unsur kuno yang tergantikan oleh kemodernan artinya "Lantai papan jati dilapisi keramik" atau "Lantai keramik melapisi papan jati" karena papan kayu yang identik dengan kuno, dan keramik identik dengan modern.
Kofilosofi telah dirombak. Nuansa modern dan sentuhan industri menggantikan rona kuno yang dahulu amat dikenalnya. Perabot-perabot kayu disulap menjadi kursi-kursi besi dan meja-meja kaca. Dinding krem berubah abu-abu. Lantai keramik dilapisi papan jati.
After all, saya tetap menikmati kisah Hanna dan Kai ^^.
Interlude itu bagian kosong pada lagu seperti layaknya ‘intro’ tp berada di tengah2 lagu. Interlude ini bagian yang menyambungkan Bait dengan Bait atau Bait dengan Chorus. Tidak terdapat syair dalam Interlude ini. Interlude hanya terdiri dari beberapa bar atau pola chord. Mungkin 4 bar, 6 bar atau 8 bar (source:here)

Keep reading for rest of your life :)

Rating: 4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar