Selasa, 14 Oktober 2014

Pulang


Judul: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Genre: Fiksi
Jumlah Halaman: 464 halaman
Tahun Terbit: 2012
ISBN13: 9789799105158

"Kau tak boleh menyeret-nyeret nasib dan perasaan orang hingga orang itu tercecer kemana-mana. Kau harus berani memilih dengan segala resikonya.
-Dimas Suryo-

"Aku tak ingin seperti mereka. Aku tahu yang kuinginkan. Dan itu kutemukan setelah berusia 33 tahun"
-Segara Alam-

"Aku tak ingin punya jarak denganmu. Tidak satu sentimeter. Tidak satu milimeter"
-Lintang Utara-

"Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang," begitulah sekiranya kalimat Dimas yang mewakili isi novel ini. Pulang adalah novel karya Leila S. Chudori yang mengangkat kisah cinta, perjuangan, persahabatan, kebencian, dan makna pulang yang berlatar sejarah Indonesia. Kisah dibuka dengan "Aku" yang dianggap "kutu dan debu" oleh pemerintah saat itu. Si Aku sedang bersembunyi dari kejaran tentara di kamar pencucian film foto Tjahaja Foto. Kelak setelah cerita berjalan si Aku adalah Hananto Prawiro, tokoh yang mempengaruhi Dimas-si tokoh utama. Dimas Suryo dikenal teman-temannya sebagai orang yang bebas dan tak memihak. Saat itu Indonesia di tahun 1965 sedang dalam masa pemulihan setelah kemerdekaan 20 tahun berlalu. Dimas berpikiran terbuka. Ia bisa berteman dengan siapa saja, bisa dengan orang LEKRA atau pun orang-orang yang berpaham kiri.
Kenapa kita harus bergabung dengan salah satu kelompok hanya untuk menunjukkan sebuah keyakinan? Lagipula, apakah mungkin keyakinan kita itu sesuatu yang tunggal? Sosialisme, komunisme, kapitalisme, apakah paham-paham ini harus ditelan secara bulat tanpa ada keraguan? Tanpa rasa kritis?
Sayangnya sikap Dimas yang bebas dan tak menentukan pilihan, membuat dirinya harus merelakan Surti Anandari. Surti, kekasih Dimas, lebih memilih lelaki seperti Hananto sebagai suaminya. Cinta Dimas dan Surti harus kandas karena idealisme yang berbeda. Meski Dimas dan Surti tak berujung pada pernikahan, lantas tak membuat Hananto, Dimas, dan Surti bermusuhan. Mereka tetap berteman. Hananto tetap menjadi seorang kakak, sahabat, dan teman Dimas. Namun, cinta terkadang seusatu yang layak dikenang dan dapat membuat diri kita kuat meski hanya dalam bentuk kenangan. September 1965, Dimas, Nugroho, Risjaf, dan Tjai dari Kantor Berita Nusantara ditugaskan ke luar negeri untuk mengikuti beberapa konferensi. Tahun itulah jadi tahun terakhir mereka menginjakkan kaki di Indonesia hingga berpuluh-puluh tahun kemudian baru dapat kembali dengan duka yang mendalam. Tahun itulah yang dikenal sejarah sebagai G30S/PKI. Salah satu yang dicurigai sebagai sarang PKI ini adalah Kantor Berita Nusantara. Hal ini juga yang menyebabkan Hananto ditangkap. Dan keempat pilar tanah air (Dimas, Nug, Tjai, dan Risjaf) kehilangan kewarganegaraan. Dimas dan teman-temannya memutuskan mendirikan Restoran Tanah Air di Paris. Sayangnya, di masa itu sejauh apapun kita melangkah bila telah dicap tapol (orang-orang yang dianggap memiliki pemikiran komunis) tetap tapol. Hal ini kelak yang membuat kehidupan Lintang Utara anak Dimas mencari jati dirinya ke Indonesia dan bertemu Segara Alam, anak dari Hananto.

 Source: here edited by me

Mari saya akui, saya adalah pembaca yang kebanyakan membaca genre romance. Jarang sekali saya membaca buku bertema sejarah atau berlatar sejarah. Buku-buku "sejarah" ini dapat dihitung jari. Jadi apa yang menarik bagi saya adalah kisah kasih antara tokoh-tokoh di novel ini-pada awalnya. Namun, yang saya temukan bukan hanya kisah romance yang menarik tapi sejarah dunia dan Indonesia yang tertoreh dalam buku ini sangat menarik. Setting novel ini mengangkat 3 sejarah umum yang penting, yaitu Paris Mei 1968, Indonesia September 1965, dan Jakarta Mei 1998. Paris di tahun 1968, terjadi gerakan protes mahasiswa dan buruh yang disulut oleh perbedaan kelas sosial di Prancis dan permasalahan anggran kampus. Sedangkan di Indonesia tahun 1965 terjadi G30S/PKI. Sebenarnya novel ini berkisah lintas generasi. Yaitu, generasi Dimas Suryo dan generasi Lintang Utara. Tapi pada kedua generasi tersebut terjadi dua peristiwa penting yang menentukan nasib Indonesia selanjutnya.
Kisah generasi Dimas Suryo (1965) adalah tentang perang ideologi yang memecah bangsa. Saat itu orang-orang yang dianggap antek-antek PKI diciduk dan disiksa. Keluarga dan teman juga ikut terbawa. Penulis menggambar keadaan Indonesia saat itu melalui reaksi para tokoh cerita. Bagaimana Dimas dan kawan-kawan kehilangan kewarganegaraan karena dianggap terlibat. Keluarga mereka diinterogasi. Tak jarang harus dilewati dengan siksaan dan ancaman. Namun, siksaan itu tak berhenti pada generasi Dimas saja tapi turun pada anak-anak mereka. Pada kisah generasi Lintang Utara (1998) adalah dimulainya generasi yang menghargai pilihan. Masa digulingkannya orde baru. Penulis dengan alur yang berjalan dapat menyatukan kisah dua generasi ini dengan lincah.Yang menarik juga adalah kisah-kisah dari keluarga korban ini yang cukup bikin merinding. Istri, ayah, ibu, adik, kakak dan keluarga lainnya ikut terseret.
Saya kurang ngeh dengan penggunaan handphone jaman dulu. Tokoh generasi Lintang Utara hampir semuanya mempunyai handphone. Nah, bingung apa jaman dulu mudah ya dapat handphone? (atau saya aja yang katro gak tau? hehe^^). Penulis membawa pembaca pada kisah yang maju mundur, kadang di masa lalu kemudian di masa sekarang. Tapi, mudah dipahami karena biasanya terdapat tanggal dan tahun di atas kisah tersebut. Porsi besar memang di kisah Dimas, baru di bagian hampir akhir muncul kisah Lintang dan Segara Alam. Beberapa bagian cerita juga diisi oleh ilustrasi yang menggambarkan cerita. Secara keseluruhan, saya menyukai kisah ini, 4 bintang!.

Keep reading for rest of your life :)

Rating: 4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar