Kamis, 08 Januari 2015

Stardust

Judul: Stardust (Serbuk Bintang)
Penulis: Neil Gaiman
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Kedua, Juni 2007
Jumlah Halaman: 256 halaman
Tahun Terbit: 1998 (Februari 2007 oleh Gramedia)
ISBN: 9792226885
Genre: Fiksi, Romance, Fantasy, Adult, Adventure, Magic
Format: Paperback 

"Karena"..."Setiap kekasih adalah orang gila dalam hatinya dan penyanyi dalam benaknya"
-Tristran Thorn-

"Karena"..."Setelah kau menyelamatkan jiwaku, maka menurut hukum kaumku, kau bertanggung jawab atas diriku, dan aku atas dirimu. Ke mana pun kau pergi, aku juga hrus ikut."
-Yvaine-


Ini adalah kisah yang akan sulit kau bayangkan dan percayai bila dalam dirimu tak ada mimpi. Ini adalah kisah tentang pencarian jati diri. Ini adalah kisah yang membuatmu berpikir, "apa yang ada di dunia ini apakah hanya sebatas apa yang mampu dijangkau nalar? Atau peri adalah nyata?". Ini adalah kisah dari si pemuda desa Tembok, Tristran Thorn. Ada kisah yang bermula dari para pendahulu kita, seperti juga kisahnya Tristran. Segalanya bermula saat Dunstan Thorn muda, ayah dari Tristran, melewati batas desa Tembok untuk bermain di pekan raya yang selalu diadakan setahun sekali di desa. Mari menengok terlebih dahulu desa Tembok, karena tempat ini yang menyimpan awal mula. Desa Tembok konon terletak di Inggris,

Desa Tembok kini berdiri, sebagaimana halnya selama enam tahun, pada tonjolan batu granit yang tinggi, di tengah-tengah hutan belukar kecil. Rumah-rumah di desa Tembok berbentuk petak dan kuno, dibangun dari batu kelabu, beratap sirap hitam dan cerobong menjulang; memanfaatkan setiap inci ruang kosong di atas batu, rumah-rumah ini saling bersandar, dibangun berdempetan, dan di sana-sini semak atau pohon tumbuh dari dinding rumah.
Ada sesuatu yang harus kamu ketahui, desa tembok memiliki dinding pembatas antara desa dengan padang rumput luas yang hijau. Perbatasan ini selalu dijaga oleh penduduk desa Tembok selama ratusan atau mungkin ribuan tahun. Akan ada beberapa orang yang dibiarkan lewat begitu saja bila ingin melewati batas ini, dan orang-orang ini memang terlihat "berbeda". Namun, bagi kamu yang ingin coba-coba, jangan harap dapat melewati perbatasan. Sayangnya, bukankah peristiwa hebat selalu dimulai dengan permulaan mengejutkan?. Malam pekan raya itu, Dunstan berhasil melewati pembatas. Ternyata di balik Tembok, ada negeri ajaib dengan segala barang ajaib dan orang-orang ajaib. Di sana ia bertemu dengan gadis cantik penjual bunga menawarkan bunga kristal putih dengan imbalan yang kelak menghadirkan Tristran di dunia.
Nah, mari biarkan kisah cinta Dunstan di sini, karena kisah utama akan bergerak pada pemuda sembrono yang mengucapkan janji pada pujaan hati. Tristran Thorn muda sangat menyukai Victoria Forrester, gadis tercantik di desa Tembok. Malang bagi Tristran, Victoria sama sekali tak tertarik padanya. Oleh karenanya, suatu malam saat bintang jatuh, Victoria mengajukan permintaan agar Tristran membawakan bintang jatuh tersebut semata-mata untuk menjauhkan Tristran dari dirinya. Sulit bagi orang yang jatuh cinta tersebut,  menolak apa yang kekasihnya inginkan meski hal itu mustahil. 
"Karena"
"Setiap kekasih adalah orang gila dalam hatinya dan penyanyi dalam benaknya"
Maka dimulailah kisah Tristran mencari bintang jatuh di seberang desa Tembok. Apa yang Tristran temukan di luar desanya, bukan hanya bintang jatuh (yang amat sangat di luar prediksi) melainkan juga kaum Lilim, para bajak laut pencari petir, jembalang aneh, kuda bertanduk dan hal ajaib lainnya.
Satu hal lagi yang harus kamu ketahui, bahwa cinta kadang datang karena terbiasa!^^

 Source: here edited by me

Buku pertama di tahun yang baru^^. Penulis baru yang juga baru pertama kali aku baca. Neil Gaiman memang sudah sering aku dengar, namun baru kali ini bisa membaca bukunya. Dan hei! Buku ini sudah masuk wishlist sejak lama, hanya saja baru berjodoh dengannya akhir tahun lalu. Sebenarnya, film Stardust yang memicu ingin membaca bukunya juga. Oke, mari mulai dengan bukunya.
Penulis menuturkan kisah Stardust ini dengan gaya pendongeng handal. Semuanya diambil dari sudut pandang orang ketiga yang mengajak para pembaca menjelajahi dunia Stardust ini. Di beberapa bagian, si penulis akan menuturkan kisah dari sisi Tristran, kemudian berpindah ke tokoh-tokoh dalam dunia luar desa Tembok. Seperti Ratu Penyihir dari kaum Lilim, para pemegang tahta Stromhold, dan dari sisi Madame Semele. Dan terkadang penulis mendongengkan pendapatnya sendiri saat cerita tengah berlangsung, seolah-olah sebagai pengalih perhatian yang mengajak pembaca hanya untuk sekadar tersenyum.
Andai kau menyebut sihir atau Negeri Peri kepada mereka, mereka tentu tersenyum meremehkan, kecuali mungkin Mr. Dickens, yang saat itu masih seorang pemuda tak berjenggot. Dia tentu memandangmu dengan penuh kerinduan.
Detail tempat cerita dijelaskan penulis dengan rinci. Hanya mungkin, entah karena bahasa yang digunakan penulis dalam bentuk bahasa inggris sulit diterjemahkan, dalam beberapa halaman cerita, saya harus bolak-balik membaca kembali halaman sebelumnya. Karena kehilangan maksud dari ceritanya dan cukup banyak kata-kata yang terasa asing di telinga saya seperti, katai, berdenyar, kerakal. Mungkin karya dalam bahasa aslinya juga menggunakan kata-kata indah yang sulit sehingga untuk mengimbangi cerita, diterjemahkan juga dengan kata-kata yang agak kurang lazim (mungkin^^).
Dalam kisah Tristran terkadang diisi dengan sayir-syair lagu. Seperti
Liliput-lelembut
Bocah berselimut
Kejar bayang-bayang
Mencari Bintang

Singa mengalahkan Kuda Bertanduk di seluruh kota
Dia mengalahkannya sekali
Dia mengalahkannya dua kali
Dengan segala kekuatan dan kuasa
Dia mengalahkannya tiga kali
Kekuasaannya terpelihara
Buku ini dirating untuk dewasa, seperti tertera di belakang buku. Awalnya saya bingung dengan rating ini, karena yah mungkin mindset saya tentang Negeri Peri yang identik dengan anak-anak. Atau karya lain Neil Gaiman seperti Fortunately, Milk yang memang untuk pembaca anak-anak. Setelah membacanya saya pun mengerti, ada beberapa hal yang memang tidak baik dibaca anak di bawah dewasa. So, bijaklah untuk membaca buku ini.
Dan terakhir, mengapa diberi judul Stardust? Bukan Tristran Thorn, Sang Pencari Bintang atau lainnya. Mungkin karena si Bintang Jatuh sendiri jika ia berpindah ke desa Tembok alias dunia nyata ia akan berubah menjadi batu hitam layaknya meteor yang memiliki serpihan atau mungkin agar kesan yang diperoleh lebih magic dengan judul "Stardust" dibandingkan dengan "Tristran Thorn, Sang Pencari Bintang".What do you think?

Keep reading for rest of your life :)

Rating: 3/5
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar