Kamis, 22 Januari 2015

The Food of Love

Judul: The Food of Love (Santapan Cinta)
Penulis: Anthony Capella
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Kedua, Maret 2008
Jumlah Halaman: 502 halaman
Tahun Terbit: 2004 (Februari 2008 oleh Gramedia)
ISBN13: 9789792235166
Genre: Fiksi, Contemporary Romance, Multicultural Romance, Romace
Format: Paperback


"Mulai sekarang, aku tidak akan berkencan dengan siapa pun yang namanya tidak terdaftar di Good Food Guide"
-Laura-

"Kalau kau ingin membuat seseorang menangis, kauberi dia bawang untuk diris-iris. Tapi kalau kau ingin dia merasa sedih, masakkanlah untuknya makanan yang biasa dibuat ibunya waktu ia masih kecil."
-Bruno-


Konon katanya jika ingin menarik perhatian pria adalah dengan makanan. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Menjerat hati wanita dengan makanan juga. Adalah Laura, gadis Amerika yang saat ini tengah menempuh pendidikan di Roma, Italia. Dia mengharapkan memiliki kekasih seorang chef. Pengalaman buruk yang ia miliki saat kencan dengan laki-laki Italia, membuatnya memutuskan akan berkencan saja dengan laki-laki Amerika. Namun, ide ini ditentang keras Carlotta, teman Italianya.

"Cara, datang ke Roma dan berkencan dengan orang Amerika, itu seperti pergi ke Piazza di Spagna dan makan McDonald"
Dengan beberapa rayuan dari cerita Carlotta yang berkencan dengan pria Italia berprofesi chef, akhirnya Laura memutuskan juga ingin memiliki pacar seorang chef.
"Mulai sekarang, aku tidak akan berkencan dengan siapa pun yang namanya tidak terdaftar di Good Food Guide"
Janji yang Laura buat saat itu tak hanya didengar Carlotta, tapi juga didengar Tomasso. Tomasso pikir inilah kesempatan yang diberi Tuhan untuknya agar ia bisa berdekatan dengan Laura. Singkat cerita ia membuat strategi agar laura menyukainya dengan berpura-pura menjadi chef. Tapi bagaimana jika dirimu sebenarnya bukan chef dan hanya seorang pelayan di restoran? Itulah Tomasso. Ia hanya seorang pelayan pria di Templi, sebuah restoran terkenal di Roma. Lain halnya dengan Bruno, sahabat Tomasso. Meskipun ia hanya seorang chef makanan penutup di Templi, Bruno mampu memasak makanan Italia yang khas dicampur dengan kreativitasnya sendiri menciptakan santapan yang lezat. Berbekal keahlian Bruno, Tomasso berpura-pura sebagai chef di hadapan Laura. Ia menyajikan makanan yang enak karya Bruno dan mengakui bahwa dirinya yang membuat makanan itu. Bruno hanya dapat mengikuti kemauan Tomasso sebagai alasan balas budi. Sebenrnya hal ini tidak akan rumit jika hanya sekali dan kemudian Tomasso mengakuinya. Tapi, bagaimana jika hal ini terjadi berkali-kali? Lalu bagaimana dengan perasaan Bruno yang ternyata menyimpan hati pada Laura? Bagaiman pula bila ada yang mengajak Tomasso membuka restoran, padahal dirinya sama sekali tak bisa memasak?


Buku ini diperoleh dari hasil Receh untuk Buku 2014. Setelah sekian lama ingin membaca buku dengan suasana makanan yang kental, kesampaian juga akhirnya di awal tahun ini.
Anthony Capella seringkali saya lihat bukunya yang bertengger di rak-rak toko buku. Kekhasan yang dimiliki penulis adalah kisah yang ditulis menggabungkan tema romance dengan makanan. Di buku Santapan Cinta ini seperti buku resep masakan Italia. Seperti saat penulis memberikan teknik membuat pasta melalui Bruno,
Tekniknya adalah tidak menggunakan kekuatan. Adonan pasta bukan ditekan ke bawah, tapi didorong ke depan, seperti meratakan krim penghias di permukaan kue.
Kadangkala penulis juga akan berfilosofi melalui makanan ini.
"Kalau kau ingin membuat seseorang menangis, kauberi dia bawang untuk diris-iris. Tapi kalau kau ingin dia merasa sedih, masakkanlah untuknya makanan yang biasa dibuat ibunya waktu ia masih kecil."
Karakter dari Laura adalah cewek enerjik yang suka petualangan sedangkan Tomasso adalah laki-laki Italia yang hobi tebar pesona. Berbeda dengan Bruno yang pemalu dan lebih banyak mencurahkan isi hatinya melalui makanan. Di buku ini juga diceritakan karakter laki-laki Italia yang cenderung blak-blakkan dan tergesa-gesa. Sedangkan untuk wanita Italia terkesan anggun dan pandai membawa diri.
Bila mengikuti kisah Santapan Cinta ini jangan kaget bila alurnya memang cepat. Kisahnya akan bergulir dari satu tokoh ke tokoh lain dengan alur maju. Kisah Tomasso dan Laura berjalan cepat. Dan sepertinya memang lebih banyak unsur informasi mengenai berbagai makanan daripada romansanya. Tapi hal ini tidak mengurangi jalan ceritanya meski chemistrynya jadi kurang terasa.
Unsur budaya banyak dikisahkan melalui buku ini meskipun lebih banyak yang berhubungan dengan makanan. Seperti:

1. Menurut orang Italia, minum kopi sambil duduk tidak baik bagi pencernaan dan menghidangkan cappuccino di atas jam 10.00 adalah penghinaan bagi barista.
Karena setiap orang Italia tahu bahwa minum kopi sambil duduk tidak baik untuk pencernaan sehingga akan diganjar dengan tagihan tiga kali lebih banyak daripada kalau berdiri di Bar.
Barista terhormat akan tersinggung kalau harus menghidagkan cappuccino setelah jam 10.00
2.  Di Roma, setiap bagian tubuh hewan dapat dimasak menjadi masakan tradisional yang memiliki cara pengolahan tersendiri.

3. Ada tiga macam restoran di Roma. Jenis trattorie dan osterie lokal, yang menyajikan makanan tradisional dengan penyajian tradisional. Kedua, ada cucina creativa, restoran makanan hasil eksperimen dari makanan tradisional. Dan ketiga, ada cucina gourmet yang menyajikan makanan campuran dunia. 

Oh, ya satu lagi! Buku ini juga dipenuhi berbagai istilah dan ungakapan dari Italia. Jadi jangan heran bila saat membaca buku ini ada beberapa kalimat yang tidak dimengerti meskipun ada penjelasan di bawahnya. Bon Apetite!
P.S.: Ada juga nama Indonesia yang dikenal dunia sebagai penghasil Kopi Luwak ^^

Keep reading for rest of your life :)

Rating: 3/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar