Sabtu, 07 Februari 2015

Happily Ever After

Judul: Happily Ever After
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama
Jumlah Halaman: 356 halaman
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 9797807702
Genre: Fiksi, Contemporary Romance, Sicklit, Young Adult
Format: Paperback 

"Lulu selalu ada bersama Ayah, ke mana pun Ayah pergi."
-Lulu-

"Kadang-kadang, kita cukup beruntung untuk ketemu orang-orang yang baik dalam kondisi yang buruk."
-Ayah-

Dongeng akan diakhiri kalimat keramat yang selalu jadi harapan setiap orang, "and they live happily ever after" tanpa kelanjutan kisah lainnya. Seolah kalimat pamungkas yang sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi selanjutnya tanpa perlu diceritakan. Tapi, benarkah hidup bahagia selamanya itu ada?. Hal itu juga yang kerap kali jadi pertanyaan bagi Lulu saat ia mendengarkan dongeng dari Ayah,

"Yah, bahagia selama-lamanya itu ada nggak, sih?"
"Kayak di dongeng-dongeng ini, maksudnya?"
"Iya. And they live happily ever after. Setiap dongeng kan berakhir seperti begitu. Kesannya gampang, tapi di dunia nyata, memangnya ada yang kayak gitu?"
"Hanya sebuah cerita nngak berakhir bahagia sesuai keinginan kita, bukan berarti cerita itu nggak bagus."..."Happily ever after itu masalah persepsi, Lu"
Lulu sebagai seorang anak merasa bahagia memiliki keluarga bahagia yang menyayanginya. Ada ayah, seorang arsitek dan tukang bangunan, yang sering mendongengkan kisah seru dan selalu membangunkannya setiap pagi meski Lulu sulit bangun. Ada ibu yang setiap pagi menyiapkan sarapan dihiasi senyuman manis sebagai sapaan khas. Namun, bagi Lulu remaja, di luar keluarganya, ia memiliki kisah sedih. Karin mantan sahabat dekat Lulu, selalu membully-nya di sekolah. Hal ini cukup membuat Lulu dijauhi teman-teman dan dianggap out from society. Bahkan ia dijuluki Lucifer karena menyukai hal berbau gothic. Belum cukup bagi Karin memprovokasi bullying terhadap Lulu, Karin juga merebut Ezra, pacar Lulu. Bagi Lulu, hal ini dapat ditanggungnya seorang diri tanpa harus melibatkan orang tua Lulu. Meskipun terkadang orang tuanya mengetahui hal ini juga. Tapi bila masih ada ayah yang mendukung Lulu, apapun bisa ia hadapai. 
"Setiap orang seharusnya bebas menjadi siapa pun yang dia mau, Lu. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk melakukan itu.
Malang bagi Lulu, lagi-lagi ia ditimpa musibah. Kali ini ayah yang Lulu sayangi mengidap penyakit kanker hati diketahuinya tepat saat Lulu berulangtahun. 
Percayakah kalian, bahwa hidup dapat berubah dalam hitungan detik?
Ayah penyemangat terbesarnya sakit dan hanya mempunyai kemungkinan sembuh lima belas persen. Cukupkah hal ini yang membuatnya kuat?
"Secara ilmiah, lima belas persen bukan angka yang besar. Tapi, secara spiritual, lima belas persen adalah harapan. Harapan nggak bekerja seperti statistik."
Berbekal harapan, Lulu selalu percaya ayah dapat sembuh. Berbekal harapan, Lulu selalu mendukung segala pengobatan ayahnya. Hal ini yang mengantarkan ia bertemu Eli, seorang anak laki-laki yang bermain tetris di bawah kolong ranjang rumah sakit. Bersama Eli, Lulu bertualang memahami bahwa alam punya rahasia yang membawa rencana di baliknya. Yang harus dilakukan adalah percaya ada setiap bahagia dalam keadaan apa pun bahkan dalam hidup yang ditentukan dalam bilangan statistik.


Buku setebal 356 halaman ini membawakan kisah Lulu menghadapi kenyataan hidup yang tak selamanya bahagia yang berwujud dalam kanker. Bila melihat isi buku yang mengisahkan Lulu dikelilingi oleh orang-orang terdekat yang sakit, rasa-rasanya buku ini dapat masuk ke kategori buku sicklit. Buku sicklit yang menargetkan pembaca muda ramai diterbitkan setelah kesuksesan The Fault in Our Stars. Dalam Happily Ever After penulis menjabarkan sekilas tentang penyakit kanker hati yang menyerang ayah Lulu cukup rinci. Penjabaran ini diselipkan di saat-saat pengobatan ayah Lulu atau saat Lulu mencari fakta mengenai kanker hati (hepatoma). Secara tidak langsung, Happily Ever After memberi informasi mengenai kanker hati meskipun info umum.
Pada 2008, sejumlah 696.000 orang meninggal karena penyakit itu, mayoritas pasien laki-laki. Hepatoma seringkali tak menampakkan gejala, bahkan lebih empat puluh persen penderita sering kali tidak mengalami gejala terdiagnosis.
Kisah akan mengajak pembaca menyelami "aku" dari sudut pandang Lulu. Adakalanya Lulu akan mengisahkan masa-masa indahnya bersama Karin sebagai sahabat. Lalu berkisah mengenai saat ini, saat ia tak kembali bersahabat dengan Karin. Lulu juga akan berkisah mengenai hari-harinya setelah ayah didiagnosis mengidap hepatoma. Bila menyelami Lulu sebagai "aku", karakter Lulu akan terasa sebagai remaja yang optimis dan berani. Tentu adakalanya ia takut atau pun ingin melarikan diri dari rasa sakit ditinggalkan, tapi ia akan kembali sebagai Lulu yang tegar. Sepertinya karakter Lulu juga dipengaruhi oleh ayahnya yang selalu berpikir positif dan berjuang kera melawan penyakitnya. Hal ini menjadikan sinkron antara sebab-musabab Lulu yang berkarakter tegar. Tapi, karena sudut pandang diambil dari orang pertama, akan sulit menilai karakter Lulu dari sudut pandang objektif.
Kelihaian Winna Efendi, adalah seringkali membawa kisah manis tapi sendu, mengalir dengan banyak kalimat yang membuat pembacanya menyadari hal lain dan membuat kalimat-kalimat tersebut menjadi kutipan favorit. Dalam novel lainnya, sebut saja Melbourne, dengan menyuguhkan kisah perpisahan dua sepasang kekasih tapi diakhiri dengan kisah manis. Pun Happily Ever After yang menyuguhkan pembaca bukan hanya kisah sendu Lulu dan rasa sakit, tapi ending yang manis juga. Meskipun tak ada hal manis untuk Unforgettable, tapi rasanya cukup untuk kisahnya menjadi sendu dan manis dengan caranya sendiri. Kebanyakan juga tokoh utama dari novel Winna memiliki hobi unik yang rasa-rasanya jarang ditemui. Seperti Eli yang memiliki hobi memotret melalui kamera polaroid dan senang permainan tetris. Dalam Melbourne, Laura yang menemukan hobi melalui kotak pandora Youtube.
Bagi saya sendiri, sejujurnya saya tak terlalu menyukai buku dengan tokoh remaja, cenderung saya menyukai buku-buku romance dengan tokoh dewasa. Rasanya mungkin karena sudah terlalu jauh bagi saya untuk mengulang memori masa remaja, jadi agak sulit bagi saya untuk membayangkan karakter tokoh dalam masa remaja. Konon, genre baca memang berubah seiring menanjaknya umur. Tapi toh, hal ini tidak pernah menutup diri saya sendiri untuk membaca buku-buku dengan tokoh remaja. Memang setelah membacanya, selalu saja ada kisah menarik dari karakter remaja. Kedua, saya tidak menyukai buku sicklit, terhitung Happily Ever After adalah buku kedua setelah People Like Us dalam kurun waktu dua tahun 2014-2015, yang saya baca dan tokoh utama atau di sekitar tokoh utamanya sakit. Bahkan hebohnya The Fault in Our Stars atau Me Before You masih belum membuat saya beranjak untuk membaca buku sicklit. Jujur saja, buku sicklit selalu membawa momok "face the reality" bagi saya. Toh, kehidupan memang tak sempurna. Tapi membaca kisah fiksi yang juga menyajikan kenyataan sakit terkadang membuat saya berhari-hari selalu dirundung rasa haru. Sejauh ini membaca kisah sicklit selalu membawa suasana haru. Dengan Happily Ever After yang membawa tokoh remaja dan rasa sakitnya, awalnya saya tidak ingin membaca. Tapi berkat racikan penulis, saya justru menemukan optimis di samping rasa haru melalui karakter Lulu dan orang-orang di sekitarnya. Hal ini membuka peluang besar bagi saya untuk membaca buku sicklit selanjutnya. Terima kasih Winna untuk kisah Lulu ini!

Keep reading for rest of your life :)

Rating: 4/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar