Selasa, 31 Maret 2015

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

Judul: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk
Penulis: HAMKA
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan: Cetakan I 2013 (Edisi Revisi)
Jumlah Halaman: 264 halaman
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 9789796909971 
Genre: Fiksi, Roman
Format: Paperback

Kalau demikian, hari inilah saya terangkan di hadapanmu, di hadapan cahaya matahari yang baru naik, di hadapan roh ibu bapa yang sudah sama-sama berkalang tanah, saya katakan: Bahwa jiwaku telah diisi sepenuh-penuhnya oleh cinta kepadamu. Cintaku kepadamu telah memenuhi hatiku, telah terjadi sebagai nyawa dan badan adanya. Dan selalu saya berkata, biar Tuan mendengarkan, bahwa engkaulah yang akan menjadi suamiku kelak, jika tidak sampai di dunia, biarlah di akhirat. Dan saya tiadakan berdusta di hadapan Tuhan, dan di hadapan arwah nenek moyangku

-Hayati-  

Tersebutlah Zainuddin, si anak Mengkasar yang bercita-cita menginjakkan kaki di negeri ayahnya, Batipuh. Sebagai anak yang tak diakui kesukuannya, jelas ia ingin memiliki darah sendiri. Oleh karenanya ia bertekad ingin belajar ilmu dan menginjakkan kaki di tanah Batipuh. 
Sempit rasanya alam saya, Mak Base., jika saya masih tetap juga di Mengkasar ini. Ilmu apakah yang akan saya dapat di sini, negeri begini sempit, dunia terbang, akhirat pergi.  

Apa hendak dikata bagi Mak Base yang mengurus Zainuddin sedari kecil, ia hanya bisa merestui perginya Zainuddin ke Batipuh. Sebenarnya, ayah Zainuddin ini diusir dari Batipuh karena telah membunuh pamannya yang kikir. Pamannya kurang bisa adil pada Pendekar Sutan, ayah Zainuddin. Kadang ia bersikap sewenang-wenang menggunakan harta Zainuddin.
saya mamak di sini, menghitamkan dan memutihkan kalian semua.
Ini yang membuat Pendekar Sutan terusir dari Batipuh dan pada akhirnya menikah dengan orang Mengkasar dan memiliki putera Zainuddin. Sayangnya, bagaimanapun betah di negeri orang, tetaplah negeri orang. Oleh karenanya, Zainuddin juga merasa kepergiannya ke Batipuh juga sebagai tunia janji pada ayahnya.
Nasib memang tak berpihak pada Zainuddin di Mengkasar tak diakui begitu pun di Batipuh. Ia hanya orang luar. Perangai Zainuddin yang baik tak membuat asal usulnya jadi tak penting. Hal itu sudah menjadi hal yang wajib dimiliki di sana. Darah murni. Saat diambang pencarian dirinya di tanah Minangkabau, Zainuddin jatuh cinta pada Hayati. Bunga desa yang memiliki budi pekerti halus. Mereka berdua saling mencintai. Sayang nasib kadang tak bertemu bahagia.

Source: here edited by me

Tema dari buku ini adalah tentang seorang laki-laki bernama Zainuddin yang jatuh cinta kepada Hayati diwarnai hukum adat. Zainuddin adalah anak dari Pendekar Sutan. Ayah Zainuddin diusir dari tanah Minangkabau kemudian membangun keluarga di Mengkasar. Sebagai anak dari orang Mengkasar dan Minangkabau, Zainuddin tidak diakui di kedua daerah tersebut. Ia bukan darah murni. Hal ini yang akan menimbulkan kesusahan dalam hidup Zainuddin.
Kosa kata dan gaya bahasa dari buku ini hampir sudah jarang digunakan untuk novel. Kesan saat membaca ini, setiap paragraf dan kalimat itu ibarat syair atau puisi. Susah untuk tidak membuka kamus dan/ mencarinya di google. Sempat terpikir, rasanya gaya bahasa seperti syair untuk saat ini terasa berat dan berseni sehingga untuk orang awam seperti saya akan sulit memahami cerita tanpa pertolongan kamus. 
Tokoh Zainuddin yang digambarkan alim dan memiliki perangai yang baik hanya mempunyai satu masalah utama, yaitu asal usul. Zainuddin sudah sempurna, hanya saja nasib dan takdir tak berpihak pada dirinya. Lain hal dengan Hayati. Hayati di awal tampak sebagai gadis pemalu yang menaati aturan adat. Tapi ia jatuh cinta juga pada Zainuddin, hingga sampai membuat sumpah yang untuk ukuran orang yang tidak jatuh cinta rasanya berat sekali (ya kan kalau jatuh cinta konon hal berat pun jadi ringan). Sayangnya, Hayati adalah gadis yang mudah juga terbujuk oleh ajakan temannya, Khadijah. Akhirnya Hayati berpaling pada keindahan dunia yang ditawarkan Aziz. Ada juga Aziz, laki-laki yang menjadi suami Hayati. Di sini menurut saya, dia adalah tokoh antagonis yang memisahkan antara Hayati dan Zainuddin. Ia berperangai buruk karena berasal dari keluarga kaya yang menghabiskan hari-harinya untuk kesenangan. Dan mendapatkan Hayati bagi Aziz adalah sebuah trofi.
Setting untuk novel ini adalah sebagian besar Mengkasar, Padang panjang, Batipuh, dan Surabaya. Budaya yang diangkat dari Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk lebih condong ke adat-istiadat dari Batipuh. Konon untuk warga Batipuh ini jika dalam sebuah keluarga mewariskan harta warisan, maka yang mengurus adalah wanita dalam keluarga tersebut. Makanya, jika tak ada wanita dalam keluarga tersebut, maka akan dianggap tidak mampu mengurus harta waris. Negeri ini terkenal sebagai negara ibu. Oleh karenanya wanita memiliki peran besar dalam mengurus harta keluarga. Sayangnya, nasib wanita di saat itu, masih ditentukan oleh adat dan keputusan dari pihak kepala adat berdasarkan mufakat. Seperti Hayati yang dipilihkan suami Aziz.
Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini meskipun cukup lama membacanya karena harus mencari beberapa arti kata. Adat-istiadat dan kehidupan yang dikatakan modern karena sudah banyak sekolah dan pengaruh barat di zaman itu dapat menjadi acuan untuk membayangkan sejarah Indonesia. Dan kapal Van Der Wijk ini memang benar adanya. Bahkan ada monumennya.



Keep reading for rest of your life :)

Rating: 4/5

P.S: untuk versi film, akan saya bahas di kesempatan selanjutnya :).   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar