Kamis, 30 April 2015

Buku yang "Ngena Banget" dan Kontroversi Hati


Kalau baca judul di atas rasanya ingin ketawa dengan istilah kontroversi hati, tapi mari coba pahami apa yang menjadi kontroversi dalam hati ini (cekileh *cuci muka*). Beranjak dari pertanyaan yang diajukan Bebi mengenai Hubungan dengan Pembaca,
Pernahkah kamu merasa sangat nyambung dengan sebuah cerita atau buku? Seolah kamu bisa relate dengan kisah si tokoh. Atau kamu membaca sebuah buku, tapi temanya bertentangan dengan moral pribadimu? Bagaimana jika sebuah buku begitu kontroversial, kamu nggak tahu bagaimana harus membuat review bukunya? Bagaimana kamu menyikapinya?
Jawaban untuk keduanya adalah pernah. "Pernahkah kamu merasa sangat nyambung dengan sebuah cerita atau buku? Seolah kamu bisa relate dengan kisah si tokoh.". Ada beberapa buku yang membuat saya merasa saya adalah tokoh yang ada dalam cerita tersebut. Pertama, Little Women karya Louisa May Alcott. Tokoh Amy serasa adalah gambaran diri saya dalam keluarga. Bukan karena Amy suka melukis, percayalah saya tidak pernah memiliki nilai bagus dalam lukis-melukis. Tapi tokoh Amy sebagai gadis yang seringkali ingin dapat perhatian lebih dari saudara-saudaranya. Kadangkala, saya sering membuat kakak saya kesal atau marah hanya supaya mereka memerhatikan saya. Seperti ketika Amy yang membakar catatan karangan Jo karena tidak diajak main oleh Jo. Saya juga pernah menyembunyikan sepatu kakak saya karena dia enggan mengajak saya bermain. Tapi yah begitulah, dalam keluarga tetap walaupun marah, seorang kakak pasti menyayangi adiknya. Kedua adalah buku Sabtu Bersama Bapak. Membaca buku ini seolah saya melihat bapak saya sendiri. Bapak saya selalu menjadi tangan yang menggenggam saya kemana pun saya pergi. Kasih sayang Bapak dalam kisah Sabtu Bersama bapak yang membuat saya selalu ingat bahwa Bapak pasti mendoakan dan menyayangi saya di mana pun saya berada. Satu kenangan adalah saat saya akan masuk perguruan tinggi. Saya mengikuti dua kali tes untuk masuk salah satu universitas di Bandung. Pada tes pertama saya diantar dan ditemani bapak selama tes berlangsung. Bahkan demi mengantar saya, bapak rela berdesak-desakkan di dalam bus, nyasar arah, sampai menunggu tes selama 5 jam. Dan hasil akhirnya adalah saya tidak lolos tes tersebut. Kali kedua kesempatan tes datang, lagi-lagi bapak yang mengantarkan saya untuk ikut tes. Bapak tidak mengeluh mengenai kegagalan saya. Walaupun tes kedua pun saya gagal masuk. Pada akhirnya saya tetap berkuliah di Bandung meskipun di universitas yang berbeda. Dan lagi, bapak yang mengantar saya ke gerbang universitas.
Dua novel tersebut adalah buku yang "ngena banget" versi saya. Beranjak ke topik selanjutnya," Atau kamu membaca sebuah buku, tapi temanya bertentangan dengan moral pribadimu? Bagaimana jika sebuah buku begitu kontroversial, kamu nggak tahu bagaimana harus membuat review bukunya? Bagaimana kamu menyikapinya?. Saya membaca buku-buku romance. Dan kadangkala saya menemukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang menjadi kepercayaan atau budaya yang membesarkan saya. Buku romance, ada yang dibumbui dengan adegan romance yang kadang merupakan hal tabu. Seperti hubungan fisik atau buku dengan tema hubungan yang tak lazim. Hal ini bertentangan dengan apa yang menjadi pegangan saya. Dan inilah yang menjadi Kontroversi Hati. Yah, bagaimana menyikapinya? Saya selalu meyakini bahwa akan selalu ada pelajaran yang diambil dari hal setabu apa pun. Selalu ada dua sisi: positif dan negatif. Selalu ada hikmah baik yang bisa dipetik dan sesuai dengan apa yang menjadi kepercayaan. Yang baik diambil, yang tidak baik dijadikan contoh sebagai hal yang tidak baik diikuti. Hal yang lainnya saya jadikan sebagai wawasan. Nyatanya dunia saya tidak sekecil daun kelor dengan lingkup yang kecil, banyak hal di luar sana yang membuat saya melek dan aware dengan diri saya sendiri. 

Dan bijaklah dalam membaca serta kritis terhadap apa yang dibaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar