Senin, 19 September 2016

London: Angel


Judul: London: Angel
Penulis: Windry Ramadhina
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 330 halaman
Tahun Terbit: 2013
ISBN: 9797806537
Genre: Fiksi, Contemporary Romance
Format: Paperback

Barangkali, Goldilocks adalah malaikat
-Gilang-


"...Memangnya, kau bisa jatuh cinta kepada seseorang yang sudah kau kenal selama delapan tahun? Kau tahu semua tentang dirinya; masa lalunya, rahasia-rahasianya, kebiasaaan-kebiasaan aneh yang dia lakukan; semua. Kau tidak bisa jatuh cinta kepadanya, percayalah. Kau cuma bisa melihatnya sebagai sahabat -- tidak lebih."
Gilang enggan mengakui bahwa dirinya jatuh cinta pada sahabat sekaligus tetangganya, Ning. Sekalipun temannya seringkali mengatakan bahwa seharusnya Gilang mengajak Ning untuk berpacaran karena mereka sudah terlalu dekat untuk ukuran pertemanan, tapi bagi Gilang; ia dan Ning hanya sahabat. Tak lebih. 
"Aku dan Ning seperti Billy Crystal dan Meg Ryan dalam film romantis lama When Harry Met Sally. Kami sangat dekat dan mengenal satu sama lain."
Berawal dari tantangan Hyde, Brutus, Dee, dan Dum sebagai kawan-kawan Gilang yang percaya bahwa Gilang seharusnya bersama Ning, maka tercetuslah taruhan agar Gilang pergi menemui Ning. Jika Gilang harus menemui Ning, maka itu artinya Gilang harus menempuh ribuan kilometer jarak. Sebab Ning saat ini berada di London.
"Kalian pikir pergi ke London sama seperti naik kereta ke Bogor? Beli tiket seharga sembilan ribu rupiah, berangkat pagi, dan pulang pada hari yang sama."
Tapi demi Ning, kali ini Gilang berani berpergian dengan membawa harapan bahwa Ning akan menerima cintanya. London menyuguhkan tempat-tempat indah untuk dikunjungi oleh siapapun yang bertandang. Charing Cross Road, London Eye, galeri-galeri seni, dan hujan di bulan September. September di London seringkali mendatangkan hujan, tak bisa menghindarinya Gilang pun terkadang harus terjebak bersama hujan. Yang berbeda dari hujan-hujan lainnya adalah ada gadis berambut Goldilocks dan bermata biru yang selalu datang bersama hujan dan payung merah. Gilang berkali-kali bertemu dengan si Goldilocks tanpa menyadari siapa sebenarnya ia. Dan kenapa ia selalu muncul bersama hujan dan pergi saat hujan reda. London:Angel berkisah tentang Gilang dan pencariannya terhadap cinta.


Rasanya tidak lengkap bila nanti buku Angel in The Rain karya terbaru Windry Ramadhina hadir, aku belum bercerita mengenai Gilang di London. Kisah Gilang, Goldilocks, dan Ayu membuatku penasaran, karena mereka muncul di dua novel Windry, dan selalunya kisah mereka tidak pernah ada kata tuntas. 
Ide cerita London, bila mengesampingkan bahwa kisah ini dibuat untuk seri STPC, adalah tentang Gilang yang berusaha menyatakan cintanya pada Ning disisipi kisah  malaikat yang konon turun bersama hujan dan bersetting London. Gilang akan dihadapkan pada pilihan lain untuk akhir kisah cintanya. Penjabaran tempat-tempat di London tidak terlalu banyak dieksplorasi selain tempat-tempat terkenal semacam London Eye atau Charing Cross Road, padahal aku berharap Windry lebih banyak berkisah detail tentang suasana London, kafe-kafe pinggir jalan London, atau rumah-rumah bergaya Victoria. Buku ini untuk masuk di seri STPC kurang dapat London-nya. Tokoh Gilang adalah seorang editor buku sastra yang tergila-gila pada Scott Fitzgerald menjadi hal menarik karena ia akan banyak berkisah mengenai sajak-sajak dan buku-buku klasik. Jika di bagian setting kurang greget, maka di bagian tokoh Gilang masuk memenuhi perannya sebagai editor yang memahami karya-karya luar. Gilang akan banyak bercerita mengenai sastra di buku London. Tokoh Ning adalah wanita yang mencintai seni lukis dan berani memperjuangkan cita-citanya sampai menjadi seorang pegawai di Tate Modern London. Tapi Ning tidak memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perasaan sahabatnya. Tak usah aneh lagi dengan si Goldilocks yang memang misterius. Tak bisa banyak diceritakan kecuali bahwa dia muncul saat hujan turun dan pergi saat hujan reda. Satu lagi tokoh yang berkesan adalah Madam Ellis yang bermulut pedas tapi baik dan bijak.
Gilang dan kisahnya bukan salah satu favoritku dalam jajaran karya Windry. Rasanya kisah mereka blur dan terkesan buru-buru. Tidak ada kisah smooth seperti Mahoni di Memori yang banyak konflik perasaan atau Anise Walking After You yang menyimpan bayang-bayang masa lalu. Latar belakang mereka kuat untuk diceritakan, tapi Gilang dan kisahnya masih menjadi kisah yang terburu-buru di London. Oleh karenanya mungkin akan diselesaikan di kisah mendatang. So, looking forward for Angel in The Rain ^^!

Keep reading for your rest of your life :)
Rating 3/5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar