Minggu, 17 Februari 2013

The Moon that Embraces the Sun 2


Judul: The Moon that Embraces the Sun 2
Penulis: Jung Eun-gwol
Penerbit: Qanita
Jumlah Halaman: 485 halaman.


"Saat kau dan aku dilahirkan kembali ke dunia ini, aku pasti bisa mengenalimu. Seperti aku yang mengenali dan mencintaimu yang terlahir kembali sebagai Wol, aku pasti akan mencintaimu lagi."
-Lee Hwon-

"Hamba sudah merasa tenang hanya dengan kehadiran Yang Mulia di sisi hamba. Karenanya, sertakanlah hamba ke mana pun Yang Mulia pergi." 
 -Yeon Woo-

""Bulan mengalir menuju awan. Bulan sudah tidak terlihat. Sosoknya bahkan telah menghilang dari dalam awan gelap. Lagi pula, yang seharusnya berada di dalam awan memang bukan bulan, melainkan hujan. Namun, awan ini tidak dapat memiliki hujan...."
-Jae Woon-

"Mendiang Raja menamaiku Yang Myung... yang berarti sinar terang matahari. Sehangat apaun sinar matahari , ia bukan matahari, melainkan hanya sinar yang dimiliki oleh matahari. Mendiang Raja telah memutuskan hal itu."
-Yang Myung-

Sedikit demi sedikit tabir kematian Permaisuri Yeon Woo mulai terkuak. Ada kecurigaan besar bahwa Yeon Woo belum meninggal. Namun hal itu masih harus diselidiki. Hwon memulainya dengan menyelidiki gut (ritual) yang pernah dilaksanakan di istana delapan tahun lalu. Hwon menyangka gut tersebut adalah Yeotamgut,gut sederhana yang dilakukan untuk memberitahukan pada leluhur bahwa gadis turunannya akan menikah. Berbeda dengan perkataan Bo Kyung bahwa gut yang dulu dilaksanakan di istana adalah gut yang menyeramkan dan rumit.
"Itu karena pengalamanku yang pernah mengikuti pelaksanaan suatu gut. Semua hal yang ada di dalam ritual, baik boneka besar yang digantung, cahaya api dan suara-suara bising, serta noda darah di pakaian yang harus dikenakan saat pelaksanaan gut, semuanya membuatku ketakutan. Meskipun itu terjadi saat aku masih kecil, ingatan itu terus ada dan membuatku tidak suka mendekati tampat pelaksanaan gut."
Kenyataan ini menambah keraguan Hwon pada kematian Yeon Woo delapan tahun lalu merupakan bukan kematian biasa. Sementara itu tekanan dari klan Yoon dan kaum pelajar semakin menjadi. Klan Yoon ingin agar Raja memiliki keturunan bersama Bo Kyung agar semakin kuat kedudukan klan Yoon di pemerintahan. Sedangkan kaum pelajar ingin menghapuskan Seongsucheong yang merupakan tempat para shaman dan kantor pengelolaan ritual. Politik ini semakin membuat Hwon tertekan. Untuk menenangkan hal ini Hwon melakukan ritual Sadokje, ritual untuk mendoakan nasib kerajaan yang dilaksanakan setiap tahun. Di tengah menunggu upacara dilaksanakan di Jongmyo, Hwon mengingat perkataan mendiang Raja sebelumnya di saat hari-hari terakhir,
"Suatu saat nanti, ketika kamu menjadi seorang Raja, kau akan mengetahui semuanya. Jika hari itu datang ... tolong maafkan ia yang sudah aku jaga, dan tolong jaga ia. Tetapi yang paling penting adalah, tolong maafkan Ayahmu ini."
Perkataan itu sungguh misteri, apa yang Raja ketahui mengenai kematian Yeon Woo? Siapa yang telah dijaga  oleh mendiang Raja?, menjadi pertanyaan tanpa jawaban yang membingungkan Hwon. Hal itu membawa Hwon menemui Nyonya Park, Ibu angkat Jae Woon, yang merupakan orang kepercayaan mendiang Raja. Tapi apa yang Hwon temukan justru di luar dugaan. Dan membuatnya merasa ragu untuk melanjutkan penyelidikan kematian Yeon Woo. Belum lagi kematian Cho Gi Ho, pesuruh Raja yang menyelidiki kasus ini, yang dibunuh dan jasadnya dibiarkan di tengah jalan ramai seolah menjadi ancaman agar Raja jangan melanjutkan penyelidikan. Jae Woon muncul menjadi kekuatan Raja agar ia terus menyelidiki kasus ini. Hal tak terduga justru datang dari kesadarannya akan sosok Wol. Wol yang memakai dialog Hanyang, Wol yang mengetahui Hwon mirip Raja terdahulu. Mungkinkah?.

Jae Woon enggan melepaskan Wol dari hatinya. Sekuat apapun ia ingin meyakinkan dirinya bahwa ia bukanlah orang yang seharusnya bersanding dengan Wol namun rasa cinta akan Wol semakin mendalam. Seandainya pun kenyataan yang selama ini mulai disadarinya adalah kebenaran, ia tak ingin hal itu terungkap. Namun di sampingnya Raja tampak terluka dan bersedih, mana mungkin ia yang seorang ungeom akan membiarkan Raja terpuruk. Ia adalah milik Raja.
Seperti Hwon yang menganggap Jae Woon sebagai satu-satunya awan baginya, Jae Woon juga menganggap Hwon sebagai satu-satunya matahari baginya. hal itu tidak akan berubah.

Pangeran Yang Myung menyimpan pergolakan batin yang mendalam. Statusnya sebagai anak selir membuat Pangeran Yang Myung tidak mendapat tempat pertama di hati Raja. Sedari kecil Mendiang Raja tidak pernah menghargai dan memuji apa yang Yang Myung perbuat, baik itu kepintaran maupun prestasinya. Yang Mulia Raja hanya memperhatikan Hwon seorang. Apa yang salah dengan dirinya?, toh ia juga anak kandung Raja bukan?,tapi Raja seolah menganggap Yang Myung bukan anaknya. Orang-orang mulai menganggap Yang Myung sebagai ancaman bagi Hwon, karena Yang Myung berada pada urutan kedua dalam tahta kerajaan apabila terjadi sesuatu terhadap Hwon. Bagi Hwon, ia tak pernah menganggap Yang Myung sebagai saingan. Ia tulus mencintai Yang Myung sebagai seorang kakak. Kasih sayang Hwon membuat Yang Myung pun amat mencintai Hwon, namun ia juga merasa iri terhadap apa yang dimiliki Hwon. Bahkan cinta pertama Yang Myung pun dimiliki oleh Hwon. 
"Mendiang Raja menamaiku Yang Myung... yang berarti sinar terang matahari. Sehangat apapun sinar matahari , ia bukan matahari, melainkan hanya sinar yang dimiliki oleh matahari. Mendiang Raja telah memutuskan hal itu."
Dengan keadaan seperti itu Yang Myung tumbuh menjadi pribadi yang tampil urakan namun penuh waspada di dalamnya, pribadi yang tersenyum namun menangis di dalamnya. Sungguh menyedihkan. Saat mengetahui Raja mulai menyelidiki Yeon Woo dan kenyataan yang mencengangkan membuat Yang Myung ingin memiliki kembali masa lalunya. Kesempatan ini digunakan Yoon Dae Hyung, ayah Bo Kyung-klan Yoon, untuk memprovokasi dan membuat kudeta di kerajaan. Akankah impian Yang Myung berhasil?.

Disamping itu cinta segitiga Heo Yeom, Puteri Min Hwa dan Seol juga semakin penuh drama. Mampukah "salju" mendekati "kembang api"?. Benarkah nasib buruk akan menimpa bagi gadis yang memegang pedang?. Let's Read :D


Wow,. Wow,. Wow,. Di buku kedua intrik politik, hal hal yang berbau mistis diulas sealur dengan cerita. Banyak twist yang terjadi sepanjang cerita. Betapa menyeramkan gut dan hal-hal pendukungnya membuat bulu kuduk berdiri. *gak bohong*. Sungguh kisah yang dikemas apik. Salut deh, buat Jung Eun-gwol ini. 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar