Selasa, 29 April 2014

Snow Flower and the Secret Fan


Judul: Snow Flower and the Secret Fan
Penulis:
Penerbit:Qanita
Genre: Fiksi
Jumlah Halaman: 568 halaman
Tahun Terbit: 2006
ISBN: 9793269499 
Bagi kami, rasa nyeri tak semakin mereda. Bagaimana mungkin? Namun, kami memetik sebuah pelajaran paling penting bagi semua wanita: bahwa kami harus patuh demi kebaikan kami sendiri. Bahkan, pada minggu-minggu pertama, sebuah gambaran mulai terbentuk tentang bagaimana diri kami bertiga sebagai wanita nantinya
-Lily-
Kisah ini diceritakan Lily, sebagai pemilik cerita. Seorang janda "yang belum meninggal" yang kini berusia 80 tahun. Dalam keheningan masa tuanya, ia mulai mengingat kisah bertahun-tahun lalu saat Lily masih sebagai gadis yang beranjak menjadi istri dan ibu. Bersama seorang laotong (kembaran hati), Lily kecil menjalani masa-masa kecilnya. Kisah bermula saat Lily kecil yang lahir pada hari kelima bulan keenam tahun ketiga pemerintahan Kaisar Daoguang tinggal sejak lama di desa Puwei. Semenjak kecil, Lily merupakan gadis sedehana yang mengikuti aturan adat yang berlaku di desanya.
Saya tidak pernah berpikir apakah saya merasa bahagia atau apakah saya pernah bersenang-senang semasa kecil. Saya hanyalah seorang gadis sederhana yang dibesarkan oleh sebuah keluarga sederhana di sebuah desa sederhana.
Ketika usia Lily mencapai umur 6 tahun, Mama dan Bibinya meminta bantuan seorang peramal yang dapat memberikan saran mengenai hari baik untuk pengikatan kaki. Tradisi pengikatan kaki merupakan tradisi yang harus dijalani seorang wanita di cina pada abad ke 19. Tujuan dari pengikatan ini guna mendapatkan bentuk kaki kecil ukuran 7 cm seperti lili emas (golden lotus). Pengikatan kaki ini dapat meningkatkan derajat dari si wanita dan keluarganya. Keluarga dengan anak gadis yang memiliki kaki lili emas dapat menjodohkannnya dengan keluarga terpandang. Secara otomatis, dapat mengangkat derajat keluarga tersebut dalam tatanan desa. Namun, sebaliknya keluarga dengan anak gadis yang tak memiliki kaki lili emas biasanya menjadi "menantu kecil", yakni gadis degan kaki besar dari keluarga yang kurang beruntung dan diurus sampai dapat melahirkan seorang anak. Saat itu, peramal yang disewa Mama dan Bibi mengatakan bahwa Lily adalah anak luar biasa yang ditakdirkan memiliki nasib baik. Setelah peramal itu pergi dengan janji akan kembali, tidak beberapa lama yang datang adalah seorang Mak Comblang dari desa Tongkou bernama Madam Wang. Dari si peramal Madam Wang tahu nasib Lily dan meyakinkan keluarga Lily bahwa ramalan itu benar adanya. Lily memiliki keistimewaan. Namun, Madam Wang tidak menyarankan pengikatan kaki pada tahun itu, akan lebih baik bila dilakukan tahun berikutnya. Meski ini di luar kebiasaan, keluarga Lily menerima hal tersebut. Dari Madam Wang pula muncul ide perjodohan masa depan Lily dengan keluarga laki-laki terpandang di Desa Tongkou dan mencarikan Lily seorang laotong "kembaran hati". Laotong ini jenis persaudaraaan antara dua gadis dari desa berbeda yang memiliki keseragaman sifat fisik dan berlangsung sepanjang hdup dari kedua gadis tersebut. Akhirnya diputuskan Lily berlaotong seorang gadis dari desa Tongkou, Bunga Salju.
Dalam kisah ini digambarkan kondisi sosial budaya saat itu di Cina. Di sebuah rumah yang dihuni keluarga dengan ayah, ibu, bibi, paman, kakak laki-laki, adik laki-laki, sepupu wanita dan kakak wanita seperti keluarga Lily memiliki tingkatan "kekuasaan" berbeda dalam rumah tersebut. Sebut saja, Mama Lily, karena ia merupakan menantu pertama dari keluarga Baba Lily maka tingkatannya lebih tinggi dibanding Bibi Lily, akibatnya yang menentukan dan mengurus urusan internal keluarga dilakukan oleh Mama. Serta Mama bisa menyuruh Bibi, sedangkan Bibi tidak bisa menyuruh Mama. Saat itu juga, anak gadis di keluarga dianggap sebagai beban yang harus mereka tanggung sampai ia menikah dan meninggalkan rumah. Sebaliknya anak laki-laki dianggap anugerah dan hal berharga yang dapat menjaga kelangsungan keluarga. Dalam keluarga tersebut juga memiliki kebiasaan memiliki ruangan tersendiri bagi wanita yakni di lantai atas rumah. Setelah pengikatan kaki dan sampai ia pergi meninggalkan rumah untuk menuju rumah suami, biasanya anak gadis dilarang turun dari ruangan wanita di lantai atas. Di sana juga tempat bagi para wanita belajar menenun, menyanyi, bersebda gurau dengan perempuan sejati atau laotong. Sementara bagi para lelaki di rumah itu, biasanya setiap pagi hari akan bekerja di ladang atau sawah. Dan kepala rumah tangga (Baba Lily) memiliki tanggung jawab memberi makan semua anggota keluarga tak terkecuali. Oleh karena itu, saat Madam Wang mencetuskan ide Laotong bagi Lily, hal ini cukup meresahkan Baba. Yang artinya Baba harus bekerja lebih keras dengan tambahan satu orang yang harus diberi makan.
Awal perkenalan Lily dan Bunga Salju bermula dari sebuah kipas yang ditulis dengan huruf nu shu. Nu Shu ini merupakan huruf yang awalnya hanya dikenal oleh wanita. Karakter tiap huruf dapat memiliki arti yang berbeda sesuai konteks penggunaan. Biasanya Nu Shu digunakan untuk menuliskan kisah/curhatan para wanita dalam keluarga kepada keluarga/teman/kerabat. apat ditulis dalam sebuah kipas, bordiran, dll. Kipas yang berisi nu shu pertama dari Bung Salju pada Lily berisi sebuah ajakan persaudaraan,
Aku tahu di rumahmu ada seorang gadis berwatak baik dan wanita-wanita yang senang belajar. Kau dan aku lahir pada tahun da hari yang sama. Mungkinkah kita jadi kembaran sehati?
Begitulah awal persaudaraan mereka yang terjalin mengalir bagai air. Lily dan Bunga Salju menjadi sepasang laotong yang berjalan bersama. Berdua belajar menjalani pengikatan kaki bersama, sebagai ritual bagi wanita yang harus dijalani kala itu. Bersama-sama belajar menenun dan menjalankan tugas rumah tangga guna kelak disayang oleh mertua. Lily dan Bunga Salju juga mulai belajar adab kepatuhan sebagai gadis yang kelak menjadi istri dan ibu. Semuanya berjalan lancar, namun air yang mengalir pun terkadang harus melewati batu dan terbelah membuat aliran yang berbeda. Lily menikah dengan keluarga terpandang di Tongkou. Sedangkan Bunga Salju menikah dengan laki-laki dari desa Jintian. Tak banyak yang diceritakan Bunga Salju mengenai keluarganya dan keluarga laki-laki yang akan menikahinya. Hal ini di kemudian hari menimbulkan kerenggangan antara sepasang laotong ini. 

Sumber: Website Lisa See

Buku ini dibaca dan diriviu untuk mengikuti tema baca dan posting bareng yang diadakan BBI. Bulan April bertema perempuan dan travel. Awalnya agak sangsi buku ini bakal cocok dengan tema perempuan. Tapi setelah dibaca, buku ini memang cocok. Di buku ini dikisahkan suka duka wanita dari Barat Daya Cina. 
Sosial budaya saat itu mengharuskan anak gadis yang masih kecil, mulai umur tiga sampai enam tahun untuk mengikat kaki mereka. Hal ini didasarkan pada kepercayaan bahwa kaki kecil ukuran 7cm yang biasa disebut kaki lili emas"golden lotus" dapat menambah kecantikan seorang wanita. Katanya dengan kaki kecil tersebut, wanita akan berjalan terseok-seok yang diterjemahkan seperti berlenggak-lenggok dan menimbulkan rasa tertarik pada laki-laki. Oleh karenanya semakin kecil kakinya semakin lelaki tertarik. Semakin besar peluang menikahkan dengan lelaki dari keluarga terhormat. Semakin besar kesempatan menaikkan derajat keluarga. Namun, hasil dari pengikatan kaki yaitu kaki lili emas sepadan dengan resiko kematian yang membayangi ritual pengikatan ini. Bayangkan kakimu yang semenjak lahir telkah berbentuk seperti apa adanya kaki saat ini, dipaksa-patahkan guna mengikuti bentuk baru yang lebih keci. Dala buku ini dikisahkan bagaimana saat Lily menjelaskan kaki lili emas ini,
Untuk mencapainya, saya harus memiliki sepasang kaki yang terikat sempurna, dengan tujuh ciri utama: Kaki harus kecil, sempit, lurus, runcing, melengkung tetapi tetap wangi dan lembut. Di antara semua persyaratan ini, ukuran panjang adalah yang utama. Tujuh sentimeter-seukuran ibu jari-adalah ukuran paling ideal. Bentuk menyusul sesudahnya. Kaki sempurna harus berbentuk kuncup bunga teratai. Ia harus penuh dan bulat di tumit, runcing di depan, nantinya berat badan sepenuhnya menumpu pada ibu jari kaki. Itu berarti bahwa jari-jari dan telapak kaki harus dipatahkan dan ditekuk ke bawah hingga ke tumit. Akhirnya, ceruk yang terbentuk dari kaki bagian depan dan tumit harus cukup dalam untuk menyembunyikan uang kertas lebar dan tegak lurus dalam lipatannya. Jika saya dapat mencapai ukuran dan bentuk seperti itu, kebahagiaan imbalannya.
Itulah pengikatan kaki. Tentu tak terbayang bagaimana rasa sakitnya. Oleh karena dipatah-paksakan timbul nanah dan darah yang keluar dari luka patah. Dan karena tidak dibersihkan langsung, timbul infeksi yang dapat merenggut nyawa. Hal ini terjadi pada adik Lily. Yang meninggal karena infeksi. 
Saat itu, wanita juga dianggap beban bagi keluarga. Mereka akan diurus oleh keluarga sampai menikah. Dan mahar dan segala macam keperluan pernikahan harus disediakan keluarga wanita. Tapi, terlihat juga wanita memiliki peranan penting dalam keluarga. Seperti, menantu dari laki-laki pertama akan menjadi penerus dan pengurus keluarga selanjutnya, menantu yang memiliki anak laki-laki akan dianggap berguna bagi keluarga suami karena dianggap mampu meneruskan keturunan keluarga, wanita yang mempelajari nu shu tentunya mampu membca dan menulis nu shu hal ini berpegaruh terhadap seni menenun dan membordir mereka. Tidak hanya berisi sulur-sulur indah, tapi juga menceritakan kisah dalam tenunannya. 
Buku ini sangat mendetail dalam kisahnya, terima kasih kepada penerjemah yang telah menerjemahkan dengan apik. Selu beluk pengikatan kaki, nu shu, menenun, membordir, dan budaya lain saat itu diceritakan dengan mendetail karena penulis di bagian akhir juga mengisahkan riset yang ia lakukan terhadap nu shu yang akhirnya melahirkan buku ini. Kisah persahabatan dua wanita, Lily dan Bunga Salju pun sangat indah dan penuh drama. Persaudaraan yang mereka jalin, padahal mereka tidak dilahirkan dari rahin yang sama, kekal. Meskipun keduanya terpisah, satu terhadap lainnya masih memikirkan kebahagiaan saudaranya. 
Satu pesan Mama Lily yang sangat saya ingat,
Hanya melalui rasa sakit kaudapatkan kecantikan. Hanya melalui penderitaan kaudapatkan kedamaian.

Keep reading for rest of your life :) 
Rating: 4/5



18 komentar:

  1. ahh kaki emas!
    aku jadi inget sama cerita daughter of fortune. disana juga diceritain soal gadis berkaki emas yang sayangnya, kesehatannya tidak sebaik kecantikannya.

    nice review, mbak.

    salam kenal.

    Dila - kilas buku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, cantik tapi sakit. Itu sampai ada yang meninggal gegara diikat kaki :(

      Hapus
  2. Buku yang menarik mbak, reviewnya juga bagus :)

    BalasHapus
  3. ngeri banget ngebayangin tentang pengikatan kaki ini :D bukunya menarik ya, dan sepertinya detail banget...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cukup detail, mbak. Soale katanya penulis riset sampai mengunjungi tempatnya langsung..

      Hapus
  4. 7 cm? aku ambil penggaris trus ngukur kakiku dong...astagaa over bgt hahaha..jd kebayang sakitnya kayak gimana tuh kalo kaki udh terlanjur panjang 20cm trus tiba2 hrus dipendekin awwwwww

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak kebayang ya? Sempat googlin, dan lihat golden lotus itu kayak apa. Ternyata emang kecil banget..

      Hapus
  5. Perjuangan banget ya untuk jadi 'cantik' menurut mereka, standar yg ga akan ada habisnya sampai sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benerrr. gak ada habisnya sampai sekarang juga. Kayaknya makin banyak mengidentikan Cantik itu Luka, Cantik itu Sakit.. :(. Sedihh

      Hapus
  6. reviewnya bagus!
    tapi ngeri bayangin pengikatan kakinya >,<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Linu kaki :(. Salam kenal^^

      Hapus
  7. ya ampun aku merinding mbayangin kaki diikat dn jari jemari dipatahkan x_x

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kak... Sakitnya kebayang...

      Hapus
  8. baca reviewnya jadi tertarik baca bukunya, sekarang juga ada, tren operasi kaki ala cinderella.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiya? Kayak gimana itu kak operasi kaki ala cinderella? *berangkat googling dulu*

      Hapus
  9. Salam kenal mbak :)
    ceritanya menarik, jadi pingin baca. Tapi kayanya nggak tega baca tentang pengikatan kakinya. Sedih rasanya kalo harus ngambil resiko kehilangan nyawa demi jadi 'cantik'

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenla juga^^.. Hmhm, sempet ngeri juga baca bukunya. Linu ;(

      Hapus