Jumat, 30 Januari 2015

Little Women #Secret Santa 2014

Judul: Little Women (Gadis-Gadis March)
Penulis: Louisa May Alcott
Penerbit: Gramedia
Cetakan: -
Jumlah Halaman: 378 halaman
Tahun Terbit: November 2014 oleh Gramedia
ISBN: 9786020310367 
Genre: Fiksi, Klasik, Historical Fiction, Romance
Format: Paperback  

"Pada suatu waktu, ada empat orang gadis, yang punya cukup makanan, air, dan pakaian. Mereka hidup nyaman dan suka bersenang-senang. Mereka punya teman-teman dan orang tua yang baik, yang mengasihi mereka. Tetapi, hati mereka tidak tenang. Anak-anak ini sangat ingin menjadi anak-anak baik, mereka menyatakan banyak tekad yang terpuji."
-Marmee-

Little Women berkisah tentang kehidupan empat gadis muda dari keluarga March yang konon ditulis Louisa May Alcott berdasarkan kisah hidupnya sendiri bersama saudaranya. Novel ini menceritakan bagaimana kehidupan sehari-hari dari Meg, Jo, Beth, dan Amy. Meg adalah gadis tertua diantara empat bersaudara, Meg memiliki sifat penyayang, mengayomi adik-adiknya, menyukai baju-baju indah,
"Model kerahnya tidak rendah, dan panjangnya tidak sampai ke lantai tapi apa boleh buat. Baju rumahku yang berwarna biru tampak sangat pantas, sudah dirapikan dan dikelim, rasanya seperti melihat baju baru."
Lain halnya dengan Meg, Jo adalah gadis yang tomboy, cenderung blak-blakkan, menyukai petualangan, dan merasa dirinyalah sebagai laki-laki di rumah keluarga March selama ayahnya pergi,
"Jo yang malang, kasihan sekali kau! Tapi suka tidak suka begitulah dirimu. Kau harus pusa dengan membuat namamu terdengar seperti nama anak lelaki, dan berpura-pura menjadi saudara lelaki bagi kami gadis manis-manis ini."
Itulah pendapat Beth mengenai Jo. Beth adalah anak paling pendiam diantara gadis March. Memiliki hobi akan musik, dan pemalu. Beth seperti penengah diantara saudaranya.

"Aku punya ide, sebaiknya kita masing-masing membelikan sebuah hadiah Natal untuk Marmee dan tidak membelanjakan uang untuk diri kita sendiri."
Ada juga, Amy March yang selalu bersikap layaknya seorang lady. Keahlian Amy adalah pada seni menggambar. Amy memiliki sikap paling angkuh diantara keempat saudaranya, namun seperti seluruh gadis March, Amy juga memiliki sifat penyayang.
"Kurasa penderitaan kalian semua tidak seberat yang kutanggung. Kalian tidak perlu bersekolah bersama-sama gadis sombong, yang mengejekku jika aku tidak mengerti suatu pelajaran, menertawakan pakaianku, me-label Ayah karena ayah kita bukan orang kaya, dan selalu mengolok-olokku karena hidungku jelek."
Begitulah karakter dari keempat gadis March. Kisah akan penulis tuturkan dari sudut pandang orang ketiga yang mengetahui jalannya cerita. Terkadang dari keempat sisi Gadis March penulis bercerita, terkadang penulis akan mengajak pembaca untuk berinteraksi dengan menyelipkan ajakan atau pendapatnya sendiri.
"Selanjutnya, bagaimana karakter masing-masing empat bersaudari itu akan kita ketahui nanti."

"Aku tidak punya cukup kata yang bisa kupakai untuk menggambarkan pertemuan antara seorang ibu dan putri-putrinya.
Buku Little Women berpusat pada perkembangan dari keempat gadis March dalam menghadapi beban hidup mereka masing-masing. Apa yang selalu ditekankan oleh keluarga March bahwa mereka harus bersyukur untuk apapun yang mereka miliki adalah salah satu pelajaran berharga dari buku ini. Meskipun tidak ada tokoh antagonis ataupun gesekan antar tokoh yang menimbulkan masalah besar, novel ini cukup menguras emosi. Lebih banyak pertarungan emosi dan psikologi antar tokoh. Setiap kisah gadis March selalu menyisakan hikmah yang akan mengajak pembaca untuk menyelaminya melalui sudut pandang mereka.



Bagi saya awal membaca buku ini agak sedikit membuat mengantuk, karena di bagian awal disuguhi percakapan-percakapan antar tokoh. Akibatnya yang terbayang dalam benak saya seolah-olah saya sedang menonton drama dimana setiap tokoh berbicara layaknya pemain drama. Alhasil hal ini yang membuat saya tersendat membaca di bagain awal. Tapi, yang menarik adalah setelah melewati dua bab awal saya mulai terbiasa dan menikmati setiap kisah yang penulis ceritakan. Hampir di setiap bagian saat Mrs.March menasihati keempat putrinya, saya akan manggut-manggut dan merasa nasihat itu sendiri bagi saya. Perfect!
Keunikan dari keempat karakter utama adalah rasa-rasanya saya sendiri bakal mencocokkan bagaimana karakter saya diantar gadis March diantara keluarga. Seolah setiap karakter merupakan simbol/cermin dari karakter anak dalam sebuah keluarga. Good book with good characters!


Mari mengikuti jejak saya memasuki dunia pemberi kado buku ini! Sebut saja ia S (kependekkan dari Santakah?). Dalam sebuah catatan hijau yang tersemat dalam buku pemberiannya, S menyebutkan yang secara harfiah dapat diartikan, "Tiada Suara tanpa Keheningan oleh Para Pahlawan Super (No Sound without Silence by Superheroes)". Kamu bingung? Pun saya. Sedikit "bubuk" jejak yang ia tinggalkan menimbulkan penasaran besar dalam benak. Makna ambigu dari "Keheningan" mengantarkan saya pada seseorang yang memiliki nama samaran "Keheningan". "Keheningan" bisa ada dimanapun, bahkan di remote tv, kata salah satu pemberi bantuan (baca komentar di sini). Sayangnya, bila S adalah "Keheningan" rasa-rasanya terlalu mudah dipecahkan. Ada yang tidak beres di sini. Sekian hari diombang-ambing rasa bingung, sebuah ide muncul untuk menelusuri S melalui jejak para pemberi. Dan mulailah jejak itu memandu saya menuju "Keheningan" dalam Hutan tempatnya berada. Di sana saya bertemu dengan  pemberi keinginan dalam kisah cinderella yang menyukai The Script. Dan, akhirnya saya berkata halo padamu: Peri!.
Terima kasih padamu yang memberikan buku ini. Dan terima kasih juga atas clue yang membuat saya bertemu dengan lagu baru The Script, band kesukaanmu. Mengapa saya begitu yakin dirimulah sang pemberi itu? Hanya insting dan beberapa "bubuk" bisikan dari peri lainnya. Terima kasih, Mbak Sulis Peri Hutan.


26 komentar:

  1. kok menurutku bukan ya? tapi siapa tahu bener

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bener,. Amiin. Menunggu besok deh..

      Hapus
  2. haduuuh jadi siapa yaa? penasaran XD btw aku suka little women, favoritku si jo :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak tahu ini benar apa engga, mudah-mudahan sih benar soale clue-nya mengarah ke sana.. ^^

      Hapus
    2. Jo juga karakter favoritku, suka dia yang blak-blakkan

      Hapus
  3. *nunggu santamu besok menyingkap jati diri*

    misterius banget kalo dari clue-nya yah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. *Menunggu besok dengan sabar* , cluenya ambigu..^^

      Hapus
  4. Penasaran mbak Sulis beneran apa bukan santanya :)

    BalasHapus
  5. ^^ mudah-mudahan bener ya, mbak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, iya Siro, aku santamu, tebakan kamu bener :)
      Gampang kan riddlenya? Kalau berkunjung ke blogku ada kok keterangan aku suka The Script :p
      Semoga suka ya sama bukunya :)

      Hapus
    2. Halo, My Santa..
      Riddle pendek abis bikin aku bingung beberapa hari, tapi akhirnya ketemu juga. Berdasarkan mbah Gugel, No Sound Without Silence itu yang membawa nama The Script. Sampai akhirnya nyasar ke blog mbak Sulis yang di profilnya munculin nama The Script. Terjawab sudah.. ^^. Makasih ya, bukunya.. Suka!

      Hapus
  6. eh aku kalo ngasih riddle gampang lhooo... terlalu gampang itu ga selalu berarti jebakan :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak Mute berarti yah? *masih penasaran*

      Hapus
    2. Atau mbak Sulis? wahaha *semuanya belum clear*

      Hapus
    3. Etapi kak mute udah ngaku di blog lain kok

      Hapus
    4. Iya deng, mbak Mute sudah mengakui di blognya Orin..:)

      Hapus
  7. Nah lho, yg mana ni santanya XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Santanya sudah ketemu di blog Kubikel Romance ^^

      Hapus
  8. Ini mana sih santanyaaaa? Kok ngga ada yg ngakuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Santanya sedang siap-siap ngaku kemarin..^^

      Hapus
  9. Masa iya Santa-nya aku? #santayangtertukar

    BalasHapus
  10. wahaha... Siro bisaan nebaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak sengaja nemu judul lagu itu, terus baru deh nyari member BBI yang suka sama band The Script. Voila! muncul nama mbak Sulis :)

      Hapus