Senin, 23 Maret 2015

Maybe Someday


Judul: Maybe Someday (Maybe #1)
Penulis: Colleen Hoover
Penerbit: Atria Books
Cetakan: -
Jumlah Halaman: 375 halaman
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 1476753172
Genre: Fiksi, New Adult, Contemporary Romance
Format: Ebook 
Hurts to see you every day
Cupid shut his eyes and shot me twice
Smell your perfume on my bed
Thoughts of you invade my head
Truths are written, never said
And if I can’t be yours now
I’ll wait here on this ground
Till you come, till you take me away
Maybe someday
Sydney mempunyai hidup yang sempurna. Dia kuliah di jurusan musik sebagai pilihannya. Sydney memiliki pekerjaan di perpustakaan kampus, menempati apartemen yang ia sewa bersama sahabatnya, Tori. Dan tentu saja ia memiliki pacar yang tampan dan mapan, Hunter. Segalanya tampak sempurna untuk dua minggu sebelum Sydney berumur dua puluh dua tahun.
I never expected my twenty-second birthday to end with me showering in a strange apartment and sleeping on a couch that belongs to a guy I’ve barely known for two weeks, all at the hands of the two people I cared about and trusted the most.

Bagi Sydney. musik adalah passion miliknya. Ia telah belajar memainkan piano sedari kecil dan selama yang ia ingat ia mampu bermain dengan baik. Sydney pun dapat menulis lirik dan musik. Bahkan ia rela berpindah jurusan musik. Hal ini sangat ditentang ayahnya yang seorang pengacara.
Then again, music has always been a passion of mine    
Selama beberapa minggu ini, Sydney mempunyai kebiasaan baru. Yaitu, duduk di balkon, berpura-pura mengerjakan PR di hadapan Tori, padahal Sydney sedang mencuri dengar permainan gitar dari seorang pria yang tinggal di seberang apartemen. Laki-laki itu selalu bermain gitar selama satu jam setiap malam. Sebenarnya, para tetangga juga mendengar permainan gitar laki-laki ini. Tak jarang mereka juga pergi ke balkon dan mencuri dengar. Sayangya hanya Sydney yang loyal dan hampir setiap hari duduk di balkon untuk menunggu laki-laki itu memainkan musiknya. Tanpa Sydney sadari, laki-laki seberang apartemen juga memerhatikan balik dan menunggu Sydney juga. Ridge, laki-laki itu, juga menyadari bahwa seringkali Sydney mendendangkan musik miliknya disertai lirik yang dibuat Sydney. Ridge meminta Sydney untuk mengirimkan lirik yang ia sering nyanyikan dengan musik milik Ridge.
I tend to favor songs with lyrics, and I was tired of wondering what the lyrics to your songs were, so I guess I made up a few of my own.
Tentu Sydney terkejut dan tak menyangka Ridge mengetahui hal itu. Dari sanalah mereka mulai mengenal. Melalui Ridge juga, Sydney akhirnya tahu bahwa Hunter selingkuh dengan Tori. Dan membuat Sydney terdampar di apartemen Ridge. Satu hal mengejutkan bagi Sydney: Ridge tak mampu mendengar, tapi ia bermain musik dengan sempurna. Siapa sangka ternyata musik dan lirik yang menimbulkan rasa diantara mereka berdua. Sayangnya, cinta tak bisa memilih dan cinta memiliki kondisi.
Truths are written, never said
Source: here edited by me

Pertama kali membaca karya Colleen Hoover sejujurnya tidak terlalu antusias untuk memulai dari buku ini. Awalnya saya ingin membaca Hopeless yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, pengiriman yang cukup jauh dari tempat saya sekarang berada, membuat saya memutuskan untuk membaca ebook Maybe Someday yang sudah ada di dalam laptop sejak tahun lalu. Agaknya ekspektasi yang tidak terlalu besar ini yang membuat saya benar-benar menikmati membaca Maybe Someday (MS).
Tema dari MS adalah tentang laki-laki dan perempuan yang jatuh cinta tapi keadaan dan anggapan tentang masa lalu membuat mereka menahan perasaan. Sydney yang baru patah hati menemukan ketulusan dan kehangatan di Ridge. Sedangkan Ridge menemukan inspirasi dan perasaan yang berbeda pada diri Sydney. Sayangnya, Sydney dan Ridge memiliki masalah yang cukup rumit. Ada Maggie yang merupakan pacar lama Ridge dan ia tak mungkin meninggalkan Maggie demi Sydney. Sydney juga enggan menjadi seperti Tori yang merebut Hunter. Di sinilah masalah mulai timbul. Lama-kelamaan misteri masa lalu mulai terkuak dan menuntun mereka menuju keputusan berat. Untuk tetap mencintai atau melepaskan.  
Point of view yang dipakai penulis di buku MS adalah dari sisi Sydney dan Ridge. Secara bergantian akan dipaparkan aku sebagai Sydney dan Ridge. Karakter Sydney yang memiliki semangat hidup mandiri dan mampu membuat lirik yang pas dengan kemauan Ridge merupakan daya tarik bagi dirinya. Sayangnya hal ini juga yang memicu masalah bagi mereka berdua. Sedangkan Ridge yang tak mampu berbicara tapi memiliki bakat seni yang kuat adalah hal unik dari buku ini. Sebenarnya saya agak susah membayangkan Ridge yang tak bisa mendengar tapi mampu membuat lagu. Tapi Ridge ini ternyata amat peka terhadap getaran, dan hal ini yang membuat ia mampu mengenali nada-nada. Perpaduan Ridge dan Sydney agaknya kurang menarik jika tak membawa tokoh lain juga yang membuat kisah ini seru. Ada tokoh Maggie dan Warren yang berperan penting dalam MS. Keduanya yang seolah membawa perubahan besar pada plot kisah cinta Ridge dan Sydney.
Sejak awal pembaca sudah disuguhi kejutan dengan kisah cinta Sydney yang kandas. Kemudian plot cerita berjalan cukup lambat. Dan tiba-tiba, boom! Bom dijatuhkan dan pembaca disuguhi jalan cerita yang cukup cepat bergulir. Pada akhirnya ending dari kisah MS ini tak membuat saya puas. Tapi yah di situlah nikmatnya membaca kisah yang sulit diduga apa permasalahan yang membuat tokoh-tokoh ini memiliki benang merah.
Saya tak menyangka buku ini akan berhubungan dengan musik, sampul buku juga tidak menjelaskan dimana letak musik dalam buku ini. Meskipun ada kertas-kertas berisi not lagu (tapi nggak kelihatan dominan). Tapi saya baru mengerti setelah membacanya. Dalam sampul juga terlihat dua wanita yang berbeda. Satu berambut pirang, satu lagi cokelat kehitaman. Bagian blurb-nya tidak terlalu menarik tapi bikin penasaran.
At twenty-two years old, Sydney is enjoying a great life: She’s in college, working a steady job, in love with her wonderful boyfriend, Hunter, and rooming with her best friend, Tori. But everything changes when she discovers that Hunter is cheating on her—and she’s forced to decide what her next move should be.

Soon, Sydney finds herself captivated by her mysterious and attractive neighbor, Ridge. She can't take her eyes off him or stop listening to the passionate way he plays his guitar every evening out on his balcony. And there’s something about Sydney that Ridge can’t ignore, either. They soon find themselves needing each other in more ways than one.

A passionate tale of friendship, betrayal, and romance, Maybe Someday will immerse readers in Sydney’s tumultuous world from the very first page
Kesan:
Saya menyukai tokoh Ridge yang sempurna dalam ketidaksempurnaannya (bingung, kan?). Ridge ini tidak mampu mendengar dan hanya sedikit berbicara tapi ia memiliki talenta di bidang musik yang kontradiksi dengan ketidakmampuannya mendengar. Selain itu, Ridge ini laki-laki yang setia dan tidak asal mengambil tindakan. Sayangnya, saya kurang puas dengan tokoh Sydney. Kurang terasa heroine-nya. Lebih menonjol tokoh Ridge. Dalam MS, rasanya Sydney hanya memiliki masalah putus dengan Hunter, bermusuhan dengan Tori, dan mencoba membohongi perasaanya terhadap Ridge. Tapi Ridge, memiliki masalah yang cukup rumit. Oleh karena itu, agak menyayangkan juga keputusan Ridge. Dan cukup banyak rasa sesak alias nyesek saat bagian Ridge.
Banyak lirik lagu juga yang bagus dan bisa didengarkan lagunya di sini: Maybe Someday   

 

Keep reading for your rest of your life :)

Rating: 4/5


Tidak ada komentar:

Posting Komentar